Siasat Licik Belanda Tangkap dan Buang Diponegoro ke Celebes

Oleh Liputan6.com pada 08 Jan 2019, 11:56 WIB
Diperbarui 08 Jan 2019, 11:56 WIB
20160801-Melihat Langsung Lukisan Koleksi Istana Negara di Galnas Jakarta
Perbesar
Pengunjung memperhatikan lukisan karya Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro tahun 1857 yang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (1/8). (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta Tindakan pemerintah kolonial Belanda memasak patok di tanah Tegalrejo tanpa izin Pangeran Diponegoro selaku wakil raja, menyulut perang pada 1825. Selama lima tahun, anak sulung Sultan Hamengku Buwono III itu berjibaku memperjuangkan keadilan rakyat.

Pangeran Diponegoro yang memimpin pasukan pemberontak pemerintah Hindia Belanda sangat sulit untuk ditangkap. Sampai akhirnya, Belanda mengadakan sayembara penangkapan dengan hadiah sebesar 50.000 gulden beserta tanah dan kehormatan.

Namun, maklumat tersebut nyatanya sepi peminat. Harta dan jabatan tidak meruntuhkan kesetiaan rakyat kepada pangeran yang memiliki wibawa tinggi.

Sejarawan Universitas Oxford Peter Carey telah meneliti Diponegoro lebih dari 30 tahun. Dia mengungkap, catatan panglima Belanda dan Jerman menunjukkan Diponegoro berperawakan sedang, agak gempal, dan cukup kharismatik.

Diponegoro sendiri, katanya kepada Liputan6.com pada Rabu, 18 Mei 2016, bukanlah seseorang yang jenius dan ahli strategi perang yang baik. "Namun ia terbukti sangat tangguh dan bermental kuat," ujarnya.

Tak hanya Diponegoro, pasukannya pun terbukti pemberani dan tangguh dalam berperang. Bahkan, para prajurit tidak merasa suit untuk masuk ke dalam hutan dan bertahan dengan makanan seadanya.

Perlawanan tersebut membuat Belanda bersusah payah. Dari catatan yang dikeluarkan De Steurs, pihak Belanda kehilangan 12.749 serdadu yang meninggal di rumah sakit serta 15.000 orang yang tewas dan hilang dalam pertempuran. Sekitar 8000 di antaranya adalah tentara yang langsung didatangkan dari Belanda.

Biaya yang dikerahkan pun cukup besar. Kerugian Belanda tidak kurang dari 20 juta gulden. Jumlah ini kebanyakan dipakai untuk upah pegawai dan membeli bahan makanan.

 

2 dari 2 halaman

Penyergapan

Kesulitan Belanda memaksa pihaknya memutar otak untuk dapat segera menangkap Pangeran Diponegoro dan mematahkan perlawanannya. Pada tahun 1830, pemerintah Belanda merencanakan penyergapan dengan modus perundingan.

Diponegoro menerima tawaran tersebut. Pada 28 Maret 1830, dia bersama sejumlah pengikutnya menghadiri perundingan di ruang kerja Jenderal Hindia Belanda, de Kock.

Beberapa penawaran dilayangkan Diponegoro. Salah satunya, dia menghendaki negara merdeka dan menjadi pimpinan mengatur agama Islam di Pulau Jawa. Namun, Jenderal de Kock menolaknya sambil pasukan Belanda dengan sigap menyergap Diponegoro beserta pengikutnya.

Kemudian Pangeran Diponegoro diasingkan ke wilayah Manado, Sulawesi Utara yang dijaga oleh puluhan kolonel Belanda. Tapi akhirnya dia dipindahkan dengan alasan keamanan pada 8 Januari 1855.

Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel Jamal mengatakan, Diponegoro dipindahkan ke Benteng Rotterdam. Hal itu dilakukan lantaran pengamanannya lebih ketat dan lengkap.

"Di Benteng Amsterdam di Manado hanya dijaga 50 pasukan kolonial Belanda, makanya Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Benteng Rotterdam yang dijaga sebanyak 200 pasukan kolonial Belanda dengan lima bastion (benteng kecil) dengan persenjataan lengkap. Meriam ke lima penjuru," katanya kepada Liputan6.com, 28 Maret 2016.

Selama di dalam tahanan, Pangeran Diponegoro mendalami ilmu agama Islam. Dia menuliskan sejumlah buku pendidikan dalam huruf arab hingga akhir hayatnya.

Pangeran Diponegoro meninggal di ruang tahanannya, 2 Fort Rotterdam pada 8 Januari 1855. Jenazahnya dimakamkan di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulsel. Makam pangeran bernama Bendara Raden Mas Antawirya itu kini dijaga oleh cicitnya, RM Saleh.

(Liputan6.com/Rifqi Aufal Sutisna)

Lanjutkan Membaca ↓