Budi Waseso: Penunjukan SBY dan Megawati Jadi Penasihat Pramuka Tak Politis

Oleh Liputan6.com pada 27 Des 2018, 18:50 WIB
Diperbarui 27 Des 2018, 21:17 WIB
Jokowi Lantik Buwas Jadi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Budi Waseso menegaskan penunjukkan Bacharuddin Jusuf Habibie, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, sampai Nadiem Makarim sebagai Dewan Penasihat Nasional Gerakan Pramuka tidak bermuatan politis.

"Jadi ini murni sebagai pembinaan generasi muda," kata Budi Waseso di Istana Negara, Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Budi Waseso menjelaskan, sebagian tokoh-tokoh yang masuk dalam jajaran Dewan Penasihat pernah berjasa membangun Pramuka. Bacharuddin Jusuf Habibie misalnya, pernah berkontribusi membangun Pramuka saat menjabat sebagai Presiden RI ketiga.

Demikian juga dengan Megawati Soekarnoputri yang pernah menjabat sebagai Presiden kelima RI dan Susilo Bambang Yudhoyono Presiden keenam RI.

"Makanya kita ingin beliau-beliau sebagai penasihat. Siapa tahu pemikiran beliau, keinginan beliau yang dulu belum tercapai bisa kita serap, ambil, untuk mendorong Pramuka lebih baik," ujar dia.

Mantan Kabareskrim Polri ini meminta penunjukan Dewan Penasihat Nasional Gerakan Pramuka tidak dikaitkan dengan isu politik. Apalagi disangkutpautkan dengan Pilpres 2019.

"Jadi jangan karena ini tahun politik dikait-kaitkan dengan politik. Sama sekali tidak ada. Pramuka tidak identik dengan kegiatan politik dan dia tak boleh berpolitik," tegas Budi Waseso.

 

2 of 2

Diawali Rapat Formatur

Jokowi Lantik Buwas Jadi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka
Komisaris Jenderal (Purn) Budi Waseso memberikan salam hormat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat pelantikan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2023 di halaman Istana Merdeka, Kamis (27/12). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengenai mekanisme penunjukkan Dewan Penasihat Nasional Gerakan Pramuka, menurut Budi Waseso, diawali dengan rapat tim formatur Kwartir Nasional. Dalam pertemuan, sejumlah nama yang dianggap berkompeten di bidangnya diusulkan untuk membangun Pramuka di masa mendatang.

"Jadi kita rapat tim formatur yang menyusunnya. Konsepnya begitu cara berpikirnya. Oh siapa-siapa saja orang yang bisa membangun Pramuka ke depan. Tentunya Bu Mega punya pemikiran Pramuka bagus. Bu Tien juga. Kalau Pak Harto ada, mungkin Pak Harto," jelasnya.

"Misalnya Pak Hary Tanoe. Beliau ketua partai. Loh bukan sebagai ketua partainya tapi sebagai pengusaha sukses yang kami anggap sukses untuk kita. Bagaimana menularkan ilmunya untuk generasi muda. Nanti kita membangun generasi muda itu dari segala aspek," imbuh dia.

Dalam susunan kepengurusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 16 tokoh mengisi posisi Dewan Penasihat. Mereka adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Try Sutrisno, Mustofa Bisri, Syafi'i Maarif dan Siti Hartati Murdaya.

Ada juga Frans Magnis Suseno, Soekarwo, Wisnutama, Harry Tanoe Sudibdjo, Jaya Suprana, Slamet Raharjo, Eka Cipta Wijaya, dan Nadiem Makarim.

 

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka.com

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓