Kisah Relawan Atasi Rasa Takut Tembus Isolasi Ujung Kulon Usai Tsunami

Oleh Yandhi Deslatama pada 25 Des 2018, 14:47 WIB
Diperbarui 27 Des 2018, 11:13 WIB
Relawan berhasil menembus Ujung Kulon, Kecamatan Sumur (Liputan6.com/Yandhi)

Liputan6.com, Pandeglang - Relawan akhirnya bisa menembus daerah Ujung Kulon, Kecamatan Sumur, Banten, yang terisolasi pascatsunami Banten. Dartono, pimpinan relawan menceritakan bagaimana ia bersama Bulan Sabit Merah Indoensia (BSMI) membawa bantuan ke sana.

Ia merupakan seorang driver off road. Tono, sapaan karibnya, membawa serta pasukan bengkel dari Delta Dua, untuk berjaga-jaga jika terjadi kerusakan mobil saat menembus jalanan menuju kawasan Ujung Kulon.

Dia bersama relawan lainnya, berhasil menembus kawasan Ujung Kulon pada Minggu pagi, 23 Desember 2018, sebelum relawan lainnya berhasil menyingkirkan material tsunami dari jalanan.

"Infonya arah Sumur menuju Tanjung Lesung itu ada jembatan yang putus, info dikirim video dari anak IOF, makanya kita ambil arah Cibaliung, dari Citeureup belok kiri, Cibaliung turun ke Sumur. Perjalanan Panimbang menuju Citeureup kan pantai semua," kaya Dartono, saat dihubungi melalui sambungan selulernya, Selasa (25/12/2018).

Tono berangkat dari Kota Serang menuju Sumur, Minggu dini hari, 23 Desember 2018, sekitar pukul 01.00 wib. Rombongannya sampai ke lokasi, sekitar pukul 09.00 wib pagi.

Perjalanan menembus gelapnya malam, sembari memperhatikan kondisi laut. Dia nekat melawan rasa takut usai pesisir Banten dihantam tsunami Selat Sunda.

Bahkan timnya sampai ke Desa Ujung Jaya, perkampungan terakhir di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

"Cuma kita halangannya cuma nyali doang. Kalau enggak ada nyali, enggak berani, karena pinggir laut," jelasnya.

Ia menuturkan, sepanjang perjalanan, banyak bagan apung yang harusnya ada di tengah laut, berada di pantai akibat tersapu kuatnya gelombang tsunami Selat Sunda.

2 of 2

Sinyal Buruk

Setelah berhasil menembus lokasi, Tono memandu beberapa relawan lainnya melalui ponsel yang suaranya terputus-putus, lantaran sinyal yang lemah.

Hingga kini, dia bersama enam mobil yang dipenuhi relawan dan bantuan logistik, masih ada di lokasi bencana, untuk membantu relawan lainnya mengevakuasi korban.

"Ada dua posko di sana, posko dibuat sama masyarakat. Cuma memang kurang layak, saung, pinggir-pinggirnya enggak ditutupin, anak-anak kecil kan kalau malam kedinginan. Mereka masih kurang makan, terutama untuk anak kecil sama manula," jelasnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini

Lanjutkan Membaca ↓