Air Menggenang dan Banyak Reruntuhan, Kondisi Sesaat Usai Tsunami Anyer

Oleh Nurmayanti pada 23 Des 2018, 06:58 WIB
Diperbarui 25 Des 2018, 02:13 WIB
Tampak reruntuhan di jalan usai Tsunami Anyer. Dok Indira Rezkisari

Liputan6.com, Jakarta Indira Rezkisari atau Kiki (38) merupakan warga Tangerang Selatan yang menjadi saksi terjangan gelombang tsunami, yang terjadi di Pantai Anyer dan Pantai Pesisir Lampung pada Sabtu (22/12/2018).

Dia saat ini bersama keluarga tengah mengungsi di perumahan warga yang berjarak beberapa kilometer (km), dari tempatnya awal menginap di Wisma Kompas Karangbolong.

Tsunami diketahui dari suara dentuman keras yang terdengar pada pukul 21.30 WIB malam.  "Waktu itu awalnya denger suara besar bummm, terus lihat di kaca kamar kok banyak air. Saya kira air hujan banjir, tapi ternyata enggak," jelas dia kepada Liputan6.com, Minggu (23/12/2018).

Kiki menceritakan sesaat usai mengetahui jika terjadi tsunami, dirinya, suami dan kedua anaknya segera mengungsi.

Kiki dan keluarga berupaya mengungsi dengan kendaraan. Namun saat melaju dengan kendaraan tampak banyak reruntuhan memenuhi jalan. Ini membuat kendaraan Kiki dan keluarga tidak bisa melalui jalan.

Ditambah kondisi gelap gulita semakin menyulitkan kendaraannya lewat. Akhirnya dia dan keluarga memutuskan berhenti tak melanjutkan perjalanan. Hingga kemudian datang warga setempat, yang membantunya mengungsi.

Sebelumnya saat di tempatnya menginap, dia juga melihat jika tembok pagar tampak hancur akibat kena terjangan air.

Selain reruntuhan di jalan, beberapa kendaraan tampak rusak dan air masih menggenang sesaat usai tsunami menerjang.

Saat ini Kiki masih mengungsi di rumah warga hingga menunggu transportasi menuju Jakarta.

 

 

 

2 of 2

Kesaksian Pengunjung Saat Tsunami Melanda Pantai Anyer

Ilustrasi tsunami
Gelombang tinggi di laut Gunung Kidul Yogyakarta. (Liputan6.com/Sunariyah)

Tsunami yang terjadi di Anyer dan pantai di pesisir Lampung Selatan pada Sabtu malam (22/12/2018) diduga akibat aktivitas gunung Anak Krakatau.

Update BMKG pada Minggu dini hari pukul 02.55 WIB memastikan gelombang pasang yang terjadi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Gelombang pasang di Anyer dan sekitarnya memang bukan tsunami karena aktivitas gempa tektonik. Namun hal tersebut DIDUGA tsunami akibat aktivitas gunung Anak Krakatau, setelah mendapat data dari Badan Geologi. #BMKG akan melakukan verifikasi lanjutan mengenai fenomena ini," seperti dikutip dari @infoBMKG, Minggu (23/12/2018).

Informasi sebelumnya hanya menyebut fenomena ini sebagai gelombang pasang yang menelan 1 korban jiwa.

Naiknya air laut yang membuat gelombang cukup besar menerjang bangunan di sekitar kawasan Pantai Anyer pada pukul 21.30 WIB, Sabtu (22/12/2018).

"Data sementara dampak gelombang pasang di Pantai Anyer Kab Pandeglang dan Lampung Selatan adalah 1 orang meninggal dunia dan 11 orang luka-luka," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui akun Twitternya, @Sutopo_PN, Minggu (23/12/2018).

 

Lanjutkan Membaca ↓