Gelombang Tinggi di Anyer Telan 1 Korban Jiwa

Oleh Yandhi DeslatamaRaden Trimutia Hatta pada 23 Des 2018, 00:48 WIB
Diperbarui 24 Des 2018, 20:13 WIB
Ombak Tinggi

Liputan6.com, Jakarta - Naiknya air laut yang membuat gelombang cukup besar menerjang bangunan di sekitar kawasan Pantai Anyer pada pukul 21.30 WIB, Sabtu (22/12/2018). Peristiwa gelombang pasang yang dinyatakan bukan tsunami ini menelan korban jiwa.

"Data sementara dampak gelombang pasang di Pantai Anyer Kab Pandeglang dan Lampung Selatan adalah 1 orang meninggal dunia dan 11 orang luka-luka," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui akun Twitternya, @Sutopo_PN, Minggu (23/12/2018).

Sutopo menyebut 11 korban luka saat ini telah dilarikan ke rumah sakit. Dia juga mengimbau masyarakat tetap tenang karena tidak terpancing informasi bohong terkait tsunami.

"Korban luka dirawat di rumah sakit. Masyarakat diimbau tenang," ujarnya.

Dia memastikan gelombang air laut yang menerjang Pantai Anyer dan sekitarnya bukan tsunami. Gelombang pasang tersebut disebabkan karena fenomena bulan purnama.

Selain itu, menurut dia, naiknya air laut juga tidak terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak pagi.

2 dari 2 halaman

Pagar Polsek Carita Ambruk

Pagar Polsek Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, dikabarkan rubuh dihantam gelombang tinggi sekitar pukul 21.30 WIB, pada Sabtu, 22 Desember 2018.

"Itu bukan tsunami yah, tapi gelombang tinggi. Pagar kantor Polsek (Carita) juga sampai rubuh," kata Kompol Jajang, Kadivpenmas Polda Banten, melalui sambungan selulernya.

Jajang mengaku telah menerima banyak laporan dari masyarakat telah terjadi tsunami. Jajang pun telah menjelaskan ke masyarakat bahwa itu bukan tsunami, melainkan gelombang tinggi di laut.

"Sekarang anggota kami sedang dan ada yang sudah di lokasi. Membantu dan menenangkan masyarakat," jelasnya.

Dia pun meminta agar masyarakat tidak mudah percaya informasi yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Media pun diminta untuk menenangkan masyarakat, dari isu yang tidak benar.

"Masyarakat diminta percaya pada sumber informasi yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya," ujarnya.

 

Lanjutkan Membaca ↓