Mengenal Pasukan Khusus Raider Kostrad Pemburu Kelompok Separatis di Papua

Oleh Septika Shidqiyyah pada 07 Des 2018, 16:48 WIB
Diperbarui 07 Des 2018, 16:48 WIB
20160509--Raider-330-Kostrad-Jakarta-Faizal-Fanani
Perbesar
Satgas Pamtas RI-Papua Nugini Yonif Para Raider 330 Kostrad bersiap usai pelepasan di Kolinamil TNI AL, Jakarta, Senin (9/5). Sebanyak 450 tentara akan menjalankan misi pengamanan daerah perbatasan Indonesia-Papua Nugini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Pasukan khusus atau pasukan operasi khusus adalah satuan militer yang dibentuk dan dilatih untuk melakukan misi perang non-konvensional, anti-teroris, pengintaian, aksi langsung, dan pertahanan luar negeri. Pasukan khusus biasanya terdiri dari kelompok kecil yang sangat terlatih, yang dipersenjatai dengan senjata khusus, yang bekerja secara mandiri, siluman, dengan kecepatan tinggi, dan dengan kerja sama yang dekat. Pasukan khusus juga sering diberi tugas melatih satuan militer luar negeri, jadi dibutuhkan juga keahlian budaya dan bahasa.  

Proses seleksi masuk pasukan khusus sangat sulit, dan biasanya pelatihannya melebihi dua tahun. Beberapa misi juga membutuhkan pelatihan sendiri. Karena tugas pasukan khusus biasa secara diam-diam dan berhubungan dengan informasi rahasia, para calon anggota pasukan khusus diharuskan melewati proses pengujian yang berat, yang memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.

Tiap negara biasanya memiliki pasukan khusus dengan kriteria yang bisa berbeda-beda. Di Indonesia sendiri juga ada pasukan khusus yang dinamakan Pasukan Khusus Raider Kostrad.

Nama Pasukan Khusus Raider Kostrad sendiri saat ini tengah mencuri perhatian menyusul peristiwa penembakan kepada pekerja PT Iskara Karya di Kabupaten Nduga, Papua yang terjadi pada Sabtu (1/12/2018). Pasukan Khusus Raider Kostrad ini diturunkan untuk memburu kelompok separatis Egianus Kogoya yang dianggap bertanggung atas peristiwa tersebut.

2 dari 5 halaman

Miliki kemampuan anti teroris

Pasukan Khusus Raider Kostrad ini memiliki kemampuan sebagai pasukan anti-teroris untuk pertempuran jarak dekat, melawan gerilya dengan mobilitas tinggi dan melakukan pertempuran-pertempuran berlanjut. Kemampuannya tiga kali pasukan infanteri biasa.

Secara khusus Pasukan Khusus Raider Kostrad ini sering diterjunkan di daerah konflik seperti di Papua. Di Tanah Papua, peran TNI sangat dibutuhkan untuk menjaga bumi cenderawasih dari pemberontakan yang sering kali terjadi oleh pasukan bersenjata.

Raider adalah kualifikasi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dilatih untuk menguasai 3 kemampuan. Kemampuan tersebut adalah:

1. Kemampuan sebagai pasukan anti-teroris untuk pertempuran jarak dekat.

2. Kemampuan sebagai pasukan lawan gerilya dengan mobilitas tinggi.

3. Kemampuan untuk melakukan pertempuran-pertempuran berlanjut (panjang).

Pasukan Khusus Raider Kostrad ini dilatih untuk memiliki kemampuan tempur tiga kali lipat infanteri biasa. Mereka dilatih untuk melakukan penyergapan, seperti terjun dari helikopter.

3 dari 5 halaman

Proses Pelatihan Pasukan Khusus Raider Kostrad

Pelatihan atau penggemblengan raider dilaksanakan selama 84 hari, mereka memiliki kemampuan tambahan, yakni kemamuan raider. Mereka punya kemampuan operasional di semua medan laga. Baik di perkotaan, hutan, gunung, sungai, rawa, laut, pantai, dan udara. 

Pasukan Para Raider digembleng latihan dalam tiga tahap. Ketiga tahap itu adalah tahap basis, tahap gunung hutan, dan tahap rawa laut. 

- Pada Tahap Basis, pasukan mendapat pelatihan menghadapi pertempuran kota, pertempuran jarak dekat, dan ilmu medan. Penghancuran medan dan pembebasan tawanan diajarkan di tahapan ini. Mereka digembleng keras dalam tahapan ini.

- Pada Tahap Gunung Hutan, pasukan dilatih survival di hutan belantara dan kemampuan gerilya di gunung. Bahkan dalam tiga hari mereka tidak dibekali makanan, hanya garam dan korek api yang dibawa pasukan. Mereka diuji untuk tetap survive dalam kondisi seminim apapun.

- Tahap Rawa Laut, para raider digembleng kemampuan tempur di laut.

4 dari 5 halaman

Fakta-fakta penembakan di Papua

Penembakan di Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang diduga menelan 19 korban jiwa dari pekerja proyek Trans Papua dan 1 personel TNI gugur, mengundang perhatian berbagai kalangan. 

Peristiwa bermula pada Sabtu (1/12/2018) sore saat para pekerja proyek Trans Papua tengah menikmati hari liburnya. Tiba-tiba, sekitar 50 orang bersenjata api mendatangi kamp pekerja PT Istaka Karya, memaksa seluruh karyawan yang berjumlah 25 orang keluar.

Dengan kondisi tangan terikat, para pekerja digiring menuju Kali Karunggame. Esok harinya, Minggu 2 Desember, pukul 07.00 WIT, seluruh pekerja dibawa berjalan kaki, dengan tangan masih terbelenggu, menuju Bukit Puncak Kabo. Di tengah jalan, mereka dipaksa jalan jongkok, dalam formasi barisan lima saf.

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), yang menyandera mereka, pun menari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua. Lalu, sekonyong-konyong, mereka kemudian menembaki para pekerja. Membantai para sandera.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut, korban pembunuhan di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua berjumlah 20 orang. Sebanyak 19 orang di antaranya adalah pekerja pembangunan jembatan, dan satu anggota TNI. 

Hingga kini, operasi gabungan ratusan personel TNI dan Polri untuk mengevakuasi korban pembunuhan kelompok separatis bersenjata di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua masih terus berjalan.

Sementara itu Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, mengakui pihaknya yang bertanggung jawab terhadap aksi penembakan pekerja PT Istaka Karya yang tengah merampungkan jembatan di proyek Trans Papua, Nduga, Papua. 

Menurut Sebby, penyerangan dilakukan kelompok Egianus Kogoya yang memimpin Kodam III TPNPB. Kesatuan ini, kata Sebby, membawahi wilayah Nduga. "Tidak banyak pasukannya, hanya 50 orang," sebut Sebby.

Disinggung motif penyerangan kelompoknya, Sebby mengatakan bahwa pihaknya menolak apapun yang dibangun pemerintah Indonesia di Papua, termasuk pembangunan jalan Trans Papua.

Terkait aksi brutal, Sebby mengaku punya alasan pihaknya melakukan hal itu. Menurut dia, para pekerja tersebut bukanlah pekerja biasa. Dia menyebut para pekerja sebagai aparat TNI-Polri yang menyamar menjadi pekerja proyek.

Semula distrik Yigi, lokasi pembantaian pekerja jembatan dari PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga, Papua merupakan zona aman. Namun situasi berubah setelah kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya menghuni distrik tersebut.

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal, Egianus Cs pindah ke Distrik Yigi karena terdesak kejaran TNI-Polri dari Distrik Kenyam, Nduga. Sejak saat itu, Distrik Yigi masuk dalam kategori zona merah dari sisi keamanan.

"(Kepindahan Egianus dan kelompoknya) karena dikejar pasukan TNI-Polri dari Kenyam, Kabupaten Nduga sehingga lokasi insiden penembakan adalah zona merah," tuturnya.

Hingga kini pada Jumat (7/12/2018) total korban yang ditemukan dan berhasil dievakuasi ke Timika, Papua sebanyak 16 orang.

5 dari 5 halaman

DPR minta pasukan Elit TNI & Polri tumpas pemberontak

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengutuk keras pembunuhan terhadap 19 pekerja Istaka Karya yang sedang membangun jembatan distrik di Kali Yigi-Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua.

Politikus Partai Golkar ini mendorong Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengirim pasukan elite di masing-masing kesatuannya untuk memburu Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. 

Menyusul peristiwa keji ini, pada Selasa (4/12/2018) Pasukan Khusus Raider Kostrad pun diturunkan untuk memburu pelaku.

Lanjutkan Membaca ↓