Dinkes Mimika Minta Bantuan Freeport Evakuasi Petugas Medis di Perbatasan Nduga

Oleh Liputan6.com pada 06 Des 2018, 08:40 WIB
Diperbarui 06 Des 2018, 09:17 WIB
KKB Papua Kembalikan 4 Senjata Api Milik TNI

Liputan6.com, Jakarta - Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Papua menarik sejumlah petugas kesehatan dari Puskesmas Hoeya dan Puskesmas Tsinga, dua wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Nduga.

Sekretaris Dinkes Mimika Reynold Ubra di Timika, mengatakan penarikan sementara para petugas kesehatan itu ke Timika karena situasi keamanan di Kabupaten Nduga yang  saat ini rawan gangguan keamanan.

"Kami sudah menghubungi Kepala Tata Usaha Puskesmas Tsinga, mereka melaporkan situasi keamanan di Tsinga dan Hoeya tidak terlalu kondusif. Jadi kami memutuskan untuk sementara waktu, petugas kesehatan kita tarik ke Timika," jelas Reynold, di Kabupaten Mimika, Kamis (6/12/2018). 

Dinkes Mimika selanjutnya berkoordinasi dengan bagian Community Health Development (CHD) PT Freeport Indonesia, agar bersedia membantu menyediakan helikopter untuk menjemput para petugas kesehatan di dua wilayah tersebut.

"Rencananya, para petugas kesehatan di dua Puskesmas tersebut akan dijemput dengan helikopter di lokasi tugas mereka pada Kamis ini," kata Reynold seperti dilansir dari Antara.  

Dia mengatakan, di Puskesmas Tsinga, saat ini terdapat empat petugas kesehatan pemerintah, ditambah delapan orang petugas kesehatan yang ditempatkan Pelkesi (Pelkesi bekerja sama dengan Biro Kesehatan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro/LPMAK).

"Sedangkan di Puskesmas Hoeya, terdapat lima orang petugas kesehatan.

Wilayah lain yang juga berbatasan dengan Kabupaten Nduga, Papua seperti Alama, saat ini seluruh petugas kesehatannya sudah berada di Timika.

 

2 dari 2 halaman

Hanya Sementara

Reynold memastikan, penarikan para petugas kesehatan tersebut hanya bersifat sementara, jika situasi keamanan kembali kondusif maka para petugas tersebut akan kembali ke tempat tugas mereka.

"Memang ada yang berkeinginan tetap bertahan di tempat tugas mereka, tapi kami melihat situasi ini cukup berisiko sehingga tidak boleh ada yang tinggal di sana," kata Reynold.

"Kami tentu mempertimbangkan pengalaman sebelumnya seperti yang terjadi di Aroanop beberapa waktu lalu. Saat itu kami menarik petugas kesehatan di Puskesmas Aroanop setelah ada kejadian guru-guru disekap dan mengalami perlakuan kekerasan oleh KKB," imbuh dia. 

KKB pimpinan Egunius Kogoya dilaporkan membunuh puluhan pekerja PT Istaka yang mengerjakan Jembatan Kali Yigi Kabupaten Nduga.

Pada Rabu petang, 5 Desember 2018, aparat gabungan TNI-Polri menemukan 15 jenazah pekerja PT Istaka di Puncak Kabo, Distrik Yal. Hingga kini aparat masih melakukan pencarian jenazah pekerja PT Istaka lainnya.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓