Lion Air: Apapun Rekomendasi KNKT, Akan Kami Tindaklanjuti

Oleh Ady Anugrahadi pada 28 Nov 2018, 22:28 WIB
Boeing 737 MAX-8 pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh Lion Air.

Liputan6.com, Jakarta Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait menyatakan, pihaknya akan menjalani rekomendasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Salah satunya tentang budaya keselamatan, walaupun hal tersebut sudah dilakukan.

"Apapun rekomendasi, kami sudah dan akan melakukan tindaklanjuti mem-follow up rekomendasi tersebut," ucap Edward dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Edward menyampaikan, pihaknya selalu memperhatikan keselamatan. Hal tersebut pun menjadi kebiasaan di lingkungan Lion Air.

"Itu sebenarnya sudah kita lakukan terus-menerus," ujar dia.

Sebelumnya, KNKT mengeluarkan laporan investigasi awal atau preliminary report terkait kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX-8 milik Lion Air nomor registrasi PK LQP penerbangan JT 610.

KNKT menyatakan, pesawat Boeing 737 MAX-8 milik Lion Air nomor registrasi PK LQP penerbangan JT 610 yang jatuh ke laut dan menewaskan seluruh orang di dalamnya pada 29 Oktober 2018, tidak layak terbang dalam penerbangan sehari sebelumnya.

2 of 3

2 Rekomendasi KNKT

Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menerbitkan dua rekomendasi untuk maskapai Lion Air terkait kecelakaan pesawat PK-LQP nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang, Selasa pagi, 29 Oktober lalu.

Investigator KNKT Subkomite Penerbangan Nurcahyo Utomo dalam konferensi pers melaporkan investigasi awal kecelakaan Lion Air JT 610 di Jakarta, Rabu (28/11/2018). 

Dua rekomendasi itu adalah menjamin implementasi dari operation manual part A subchapter 1.4.2 dalam rangka meningkatkan budaya keselamatan dan untuk menjamin pilot dapat mengambil keputusan untuk meneruskan penerbangan.

Kedua, menjamin semua dokumen operasional diisi dan dikomentasikan secara tepat.

"Jadi ada ketidaksesuaian antara manual book Lion Air dengan kondisi penerbangan rute sebelumnya, yaitu Denpasar-Jakarta. Dengan adanya kerusakan sensor angle of attack seperti itu harusnya pesawat kembali ke bandara asal bukan meneruskan penerbangan," kata Nurcahyo, seperti dilansir dari Antara, Rabu (28/11/2018).

 

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓