Menag: Guru Harus Jadi Pendidik Berparadigma Milenial

Oleh Dian Kurniawan pada 26 Nov 2018, 06:55 WIB
Menteri Agama

Liputan6.com, Surabaya - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri acara puncak peringatan Hari Guru dan Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Berprestasi 2018, di Surabaya, Jawa Timur, Minggu malam, 25 November 2018.

Menurut Menag, ada dua hal yang harus direspons oleh guru agar dapat menjadi pendidik berparadigma milenial. Pertama, globalisasi yang membuat manusia seolah-olah sudah tanpa batas teritorial.

"Kaburnya batas teritori juga mengaburkan batas nilai dan budaya," tutur dia.

Dia mengatakan, globalisasi tentu saja membawa pengaruh positif, namun di sisi lain juga membawa paham-paham yang tidak saja bertolak belakang dengan nilai-nilai keindonesiaan, tetapi juga nilai agama yang dianut masyarakat Indonesia.

Pengaruh dari luar yang semakin mudah masuk mengundang masuknya liberalisasi, sekularisasi, dan transnasionalisme yang negatif ke ruang privat keluarga. "Bila tidak diwaspadai, itu semua akan merusak tatanan kehidupan dan nilai-nilai yang kita anut," kata Lukman.

Yang kedua adalah disrupsi teknologi, yang ditandai munculnya berbagai inovasi perangkat yang berbasis artificial intelligence (kecerdasan buatan). "Saat ini anak didik kita tak bisa dilepaskan dari perangkat digital virtual dari hidupnya," ucap dia.

Lukman menuturkan, dalam dunia pendidikan era ini bisa positif, tetapi hal itu dapat menyebabkan dehumanisasi atau ketercerabutan sisi kemanusiaan dari diri bangsa. "Kita sering mengalami, berkumpul dengan keluarga tetapi tidak saling bicara. Itu bukti bahwa dehumanisasi sudah mempengaruhi kehidupan kita," ujar dia.

Dengan fenomena ini, kata Lukman, pendidik mendapat tantangan yang amat serius. Maka dari itu para guru dituntut lebih memberikan perhatian terhadap persoalan ini.

"Guru harus dapat meneguhkan posisi anak didik agar tetap berada dalam jatidiri bangsa Indonesia yang religius dan agamis," tutur dia.

2 of 3

Program Kemenag

Tantangan dunia luar juga menjadi pekerjaan Kementerian Agama. Menurut Lukman, seluruh program di kementerian yang dipimpinnya berfokus dalam dua hal.

Pertama, menjaga moderasi islam, yang fokusnya menjaga agar pemahaman dan pengamalan keagamaan di Indonesia tetap moderat, jauh dari ekstrimisme.

"Kita terus menyerukan moderasi beragama, bukan moderasi agama, karena agama itu sendiri tentunya sudah moderat. Tetapi cara kita memahami agama boleh jadi terjebak pada perilaku berlebihan," kata Lukman.

Hal kedua yang selalu dijaga Kementerian Agama adalah menjaga agar pemahaman beragama pada hakikatnya adalah juga berindonesia dan sebaliknya, karena bernegara pada dasarnya merupakan pengamalan beragama yang diyakini.

"Saya ingin menegaskan kepada para pendidik kita, agar menyadari tantangan globalisasi dan disrupsi teknologi serta menyikapinya dengan benar dengan menjaga jatidiri kebangsaan dan keislaman," Lukman menandaskan.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓