KEIN: Data Prabowo soal Buta Huruf Keliru

Oleh Liputan6.com pada 23 Nov 2018, 06:02 WIB
Diperbarui 23 Nov 2018, 06:02 WIB
KEIN arif Budimanta 2

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta membantah data tingkat buta huruf yang disampaikan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto.

Sebelumnya, Mantan Danjen Kopassus itu mengutip data World Bank bahwa 55 persen orang Indonesia buta huruf.

Terkait data itu, Arif Budimanta menjelaskan rasio penduduk dewasa telah berada pada angka 67 persen pada 1980. Angka itu terus meningkat.

"Rasio tersebut telah meningkat hingga menjadi 95,5 persen per 2017," ungkap Arif dalam keterangan pers, Kamis, 22 November 2018.

Pemerintah, kata Arif, memiliki program untuk peningkatan literasi masyarakat. Beberapa yang sudah dijalankan diantaranya Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Literasi Bangsa (GLB), serta Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

"Pada saat ini menjadi program wajib yang harus dilaksanakan seluruh sekolah sebelum memulai proses belajar mengajar," kata Jubir TKN Jokowi-Ma'ruf itu.

Melalui program tersebut, ratusan perpustakaan disebar ke berbagai pelosok dengan berbagai ragam. Seperti motor pustaka, perahu pustaka, vespa pustaka, bemo pustaka, angkot pustaka.

"Bentuknya pun beragam dan kreatif seperti seperti motor pustaka, perahu pustaka, vespa pustaka, bemo pustaka, angkot pustaka, serta berbagai pustaka bergerak lainnya,’’ tutup Arief.

 

2 dari 2 halaman

Kalah dari Vietnam

Sebelumnya, Prabowo mengklaim penyandang buta huruf fungsional mencapai 55 persen. Itu disampaikan dalam Indonesia Economic Forum 2018 di Hotel Shangrila, Rabu, .

"Di World Bank, 55 persen Indonesia functionally illiterate (kemampuan terbatas dalam membaca). Saya sedih," kata Prabowo di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Dari data itu, Indonesia dibandingkan dengan Vietnam. Pada diagram Power Point Prabowo, 13,9 persen warga Vietnam mengalami buta huruf.

Selain itu, Prabowo menjabarkan harapan hidup di Indonesia. Angka kematian di Indonesia disebutnya berada di peringkat ke-143 dari 239 negara.

"Dan years of life expectancy, peringkat ke-168. Dan kematian di peringkat ke-143 dari 239 negara. Stunting peringkat 25 menurut UNICEF 2018 dari 149 negara. Artinya, bayi lahir tak normal," kata dia.

 

Reporter: Ahda Bayhaqi

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

Lanjutkan Membaca ↓