Cerita Pilu Tim Psikologi Polri Saat Dampingi Keluarga Korban Lion Air Jatuh

pada 04 Nov 2018, 07:09 WIB
Diperbarui 04 Nov 2018, 07:09 WIB
Keluarga Korban  Pesawat Lion Air Datangi RS Polri
Perbesar
Keluarga korban pesawat Lion Air JT 610 menyerahkan dokumen di Posko Antemortem RS Polri Kramat Jati, Selasa (30/10). Para anggota keluarga itu diperiksa untuk mendukung pemeriksaan antemortem korban insiden pesawat itu. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Jakarta - Kepala tim pendampingan Psikologis Mabes Polri, Kombes Rudatin menceritakan mengenai keluarga korban Lion Air PK-LPQ yang diberikan pendampingan psikologis oleh pihaknya. Dia mengatakan ada empat keluarga korban yang memang difokuskan untuk mendapat pendampingan khusus.

"Saya dari hari pertama sampai saat ini, ada empat orang yang jadi perhatian saya ketika keluarganya sampai saat ini belum bisa terima kenyataan. Sampai ada keluarga yang mulai kemarin sore bilang 'Iya Bu saya terima kenyataan ini'" ucap tuturnya sambil menangis di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu 3 November 2018.

Lebih lanjut, Rudatin menyebut mereka sangat sedih dan butuh perlindungan serta pendampingan usai ditinggalkan anggota keluarga yang menumpang pesawat Lion Air PK-LPQ. Dia juga mengatakan ada beberapa keluarga korban yang takut dan menghindari kamera serta wartawan.

"Mereka itu butuh perlindungan, ketika mereka enggak mau diwawancara. Mereka bahkan ada yang melihat kamera rasanya takut. Bahkan saya meminta kepada teman polwan untuk nggak foto-foto di sana. Teman-teman saya minta kami sepakat untuk nggak memperlihatkan foto (kamera), karena ada 2 orang yang melihat HP itu mereka langsung nangis, itu ada," jelasnya seperti dikutip dari JawaPos.com.

"Posko keluarga itu steril media, (karena) mereka (keluarga) shock dan stres. Atas permintaan keluarga melarang media masuk," tambahnya.

Tak hanya terguncang jiwanya, tutur Rudatin, bahkan ada keluarga korban Lion Air yang sedikit terganggu psikologisnya usai kejadian tersebut. Hingga saat ini dia mengatakan RS Polri masih melakukan kegiatan pendampingan hingga memfasilitasi keluarga korban yang ada di RS Polri.

 

2 dari 2 halaman

Keluarga Korban Dirawat

Menhub dan Kepala KNKT Konpers Temuan Black Box Lion Air
Perbesar
Menteri Perhubungan Budi Karya didampingi Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono melihat Black Box atau kotak hitam pesawat Lion Air JT 610 di posko evakuasi JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (1/11). (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sementara itu, Ketua Harian Pendampingan RS Polri Kombes Rachmawati menegaskan, sejak hari pertama dibukanya posko di RS Polri sudah ada 6 pasien dari keluarga korban Lion Air PK-LPQ yang dirujuk ke UGD karena butuh pertolongan kesehatan.

"Saya kebetulan berdinas sampai hari ini ada pasien yang dirawat, yang masih dari kemarin juga, terus ada pasien juga dari awal kita pendampingan, itu ada 6 pasien kita rujuk ke UGD," imbuhnya.

Umumnya mereka menyampaikan berbagai macam keluhan seperti stres, tidak bisa tidur, tekanan darah naik, diare, dan sebagainya. Rachmawati menambahkan, hingga hari ini masih ada satu pasien dari keluarga korban Lion Air yang dirawat di UGD karena penyakit diare.

"Satu hari ini yang masih dirawat di promoter 3 yaitu karena diare, di UGD, Alhamdulilalah hari ini dari pagi sampai sore nggak ada pasien yang kita rujuk ke UGD," pungkas Rachmawati.

 

Baca berita JawaPos lainnya di sini.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓