Cerita Sedih Nenek yang Kabarkan Cucunya Sang Ayah Jadi Korban Pesawat Lion Air

Oleh Achmad Sudarno pada 03 Nov 2018, 11:22 WIB
Diperbarui 03 Nov 2018, 11:22 WIB
Kediaman Rumadi Ramadhan, korban jatuhnya Lion Air PK-LQP ramai dikunjungi tetangga, kerabat, dan temannya.
Perbesar
Kediaman Rumadi Ramadhan, korban jatuhnya Lion Air PK-LQP ramai dikunjungi tetangga, kerabat, dan temannya. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Liputan6.com, Bogor - Kediaman Rumadi Ramadhan, korban jatuhnya Lion Air PK-LQP ramai dikunjungi tetangga, kerabat, dan temannya.

Mereka datang silih berganti setelah menerima kabar bahwa Rumadi adalah salah satu penumpang Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat pada 28 Oktober 2018 pagi.

Setiap pelayat yang datang mengucapkan bela sungkawa serta doa bagi bapak tiga anak ini.

Keluarga korban juga sudah beberapa hari ini menggelar pengajian di rumah duka di Perumahan Griya Asri, Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tati Surniatinah (69), ibu mertua Rumadi tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia selalu duduk termenung di pojok halaman rumah memikirkan nasib anaknya.

Tati hanya bisa berdoa dan ikhlas apapun yang terjadi pada Rumadi setelah pesawat Lion Air PK-LQP JT610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang yang ditumpangi jatuh ke laut.

Namun, air mata Tati tidak terbendung setiap melihat ketiga anak Rumadi yang masih dibawah umur. Tati sempat berpikir untuk merahasiakan peristiwa yang menimpa Rumadi kepada cucunya tersebut.

Karena ketiga cucunya selalu menanyakan ayahnya, ia akhirnya memberitahu apa yang dialami bapak kandungnya itu.

"Anak yang paling besar umur 11 tahun beberapa kali nanya, kenapa pasang tenda dan banyak orang datang kesini?. Akhirnya saya jelasin, tamu mau nengokin abi (Rumadi). Kapal terbang yang ditumpangi abi jatuh, belum ketemu," ucap Tati sambil berlinang air mata, Jumat 2 November 2018.

Sudarto (75), ayah mertua Rumadi menceritakan, menantunya tersebut pergi ke Pangkalpinang untuk bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan baja.

"Dia dapat tugas di sana, enggak tahu berapa lamanya," ujar Sudarto.

Namun malang bagi Rumadi, pesawat yang ditumpanginya jatuh beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Dia hilang bersama 180 penumpang lainnya.

Sebelum kecelakaan, Sudarto mendapat kabar menantunya akan bertugas ke Pangkalpinang bersama temannya menggunakan pesawat Boing 737 Max 8 dan duduk di kursi 123.

"Minggu siang dapat kabar pesawat jatuh. Kami coba hubungi Rumadi ternyata hilang kontak," ungkap Sudarto.

2 dari 3 halaman

Istri Syok

Keluarga semakin yakin bahwa Rumadi menjadi korban kecelakaan pesawat setelah namanya muncul dalam rilis Basarnas.

"Semuanya syok. Istrinya apalagi. Sehari setelah kecelakaan istrinya ke Bandara Soeta untuk mendapat kabar suaminya," kata dia.

Saat ini, Tris Tresnawati istri Rumadi sedang berada di RS Polri Kramatjati Jakarta untuk melakukan tes DNA.

Semenjak kejadian itu, Sudarto mengaku tidak bisa tidur. Pikirannya selalu tertuju pada menantunya. Kini dia hanya berharap jenazah korban dapat segera ditemukan dan bisa dibawa pulang ke rumah duka untuk disemayamkan.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓