Cerita 15 Anak Yatim Tertahan di Bandara Jeddah karena Paspor Tertinggal di Malaysia

Oleh Liputan6.com pada 25 Okt 2018, 08:29 WIB
Diperbarui 25 Okt 2018, 08:29 WIB
15 anak yatim yang hendak beribadah umrah tertahan di Bandara Jeddah, Arab Saudi karena paspornya tertinggal (Dok KJRI Jeddah)
Perbesar
15 anak yatim yang hendak beribadah umrah tertahan di Bandara Jeddah, Arab Saudi karena paspornya tertinggal (Dok KJRI Jeddah)

Liputan6.com, Jakarta - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah menyerahkan 17 buah paspor milik rombongan anak yatim yang tertinggal di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia.

Rombongan 15 anak yatim dengan 2 pendamping ini diberangkatkan oleh seorang dermawan ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah.

Paspor tersebut diserahkan langsung kepada para pemiliknya Rabu, 24 Oktober 2018, oleh Acting Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Safaat Ghofur,  saat menerima kunjungan mereka ke KJRI Jeddah untuk bersilaturrahmi.

"Ayo, siapa yang bisa jawab, paspor kegunaannya untuk apa?" tanya Safaat kepada para anak yatim dari Rumah Doa Anak Yatim, Ciampea Bogor, itu.

Lebih lanjut, Safaat berpesan kepada anak-anak tersebut agar menyimpan dokumen perjalanan mereka baik-baik, dan menyampaikan bahwa tanpa dokumen tersebut, mereka tidak bisa bepergian ke luar negeri.

Sebelumnya Minggu, 22 Oktober, KJRI menerima laporan dari pejabat imigrasi Terminal Selatan Bandara Internasional King Abdulaziz (KAIA), Jeddah, adanya rombongan jemaah umrah yang terdiri dari 15 anak-anak  dan 2  orang dewasa tertahan di ruang kedatangan bandara karena tidak memiliki paspor.

Menerima berita tersebut, Acting Konjen langsung memerintahkan dua petugas protokol KJRI yang kebetulan tengah bertugas di Terminal Utara (Internasional)  KAIA. Dua petugas tersebut diminta  segera bergerak ke Terminal Selatan (khusus Maskapai Saudia) untuk mengecek kebenaran laporan dan mengupayakan agar rombongan tersebut bisa segera dikeluarkan dari Bandara.

Dari pengakuan tour leader Ahmad Syafawi kepada KJRI, paspor tersebut ketinggalan di kursi ruang tunggu bandara di Kuala Lumpur saat mereka transit dan menunggu pergantian pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Jeddah.

"Di ruang tunggu sebelum masuk ke pesawat. Saya kan memang bawa boneka, Pak. Saya juga kan pendongeng ke anak-anak. Di Mekah juga rencananya. Kan memang saya dan ustaz dari yayasan berbeda gitu ya Pak. Beliau lebih paham terkait karakter anak-anak," tutur Ahmad kepada KJRI.

Malam itu juga, KJRI segera membuat surat jaminan yang ditujukan kepada Ororitas Bandara yang berisi permohonan agar rombongan jemaah cilik itu bisa diberikan izin keluar bandara dan dapat melanjutan perjalanan menuju Mekkah.

2 dari 2 halaman

Buat Heboh Bandara

Dituturkan petugas protokol KJRI yang menemui mereka di ruang kedatangan, anak-anak yatim tersebut sempat membuat heboh ruang kedatangan. 

Mereka melafalkan dengan fasih ayat-ayat suci  Alquran secara serentak di luar kepala. Sebagian petugas mendekat dan menghadiahi mereka dengan beberapa lembar uang riyal.

Saat bertamu ke KJRI Jeddah, rombongan yatim yang tampak ceria ini ditemani oleh para pembimbing, pihak travel dan seorang ibu dermawan yang membiayai keberangkatan mereka ke Tanah Suci.

Selama di KJRI Jeddah, mereka diminta menghibur hati jajaran staf KJRI dengan lantunan  surat al-Kahfi, Yasin, dan untaian doa.

Satu per satu dari mereka kemudian diberikan hadiah uang yang disisipkan dalam amplop oleh sejumlah dermawan di lingkungan KJRI, diajak keliling sejenak sambil berfoto dan diakhiri dengan makan siang dan salat berjemaah.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

Lanjutkan Membaca ↓