3 Wilayah Terdampak Likuefaksi di Palu Akan Dijadikan Kawasan Hijau

Oleh Raden Trimutia Hatta pada 11 Okt 2018, 12:31 WIB
Diperbarui 11 Okt 2018, 13:03 WIB

Fokus, Palu - Korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah hingga hari Rabu atau 11 hari setelah bencana, mencapai 2.045 jiwa. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyebutkan korban hilang yang dilaporkan mencapai 671 orang.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Kamis (11/10/2018), jumlah ini belum termasuk korban dari wilayah yang terdampak fenomena likuefaksi, seperti Balaroa, Petobo, dan Jono Oge.

Saat ini, pemerintah masih melakukan pendataan jumlah kerugian untuk memulai upaya pemulihan yang ditargetkan dimulai awal November. Pemerintah juga masih mengkaji kemungkinan untuk memperpanjang masa tanggap darurat yang berakhir hari Kamis ini.

Bila diputuskan masa tanggap darurat tidak diperpanjang, maka proses pencarian korban di bawah koordinasi BNPB dihentikan. Terkait keputusan pemerintah yang menghentikan proses evakuasi dan pencarian korban, warga menanggapinya beragam.

Ada yang mengaku ikhlas, meski hingga kini belum mengetahui sebenarnya nasib keluarga mereka yang hilang. Namun ada juga yang menginginkan pencarian korban tetap dilanjutkan.

Kawasan Petobo memang menjadi salah satu lokasi yang terdampak paling parah. Rencananya, pemerintah akan menutup wilayah perumahaan di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, dan menggantinya menjadi kawasan terbuka hijau.

Warga yang kehilangan tempat tinggal akan disiapkan hunian sementara sambil menunggu pembangunan hunian tetap bagi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. (Rio Audhitama Sihombing)