6 Fakta Gempa Situbondo Mengguncang 3 Pulau

Oleh Liputan6.com pada 11 Okt 2018, 12:30 WIB
BMKG

Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi mengguncang laut daerah Jawa Timur, khususnya wilayah timur laut Situbondo. Gempa magnitudo 6,0 (setelah dimutakhirkan dari magnitudo 6,4 ) ini terjadi Kamis (11/10/2018) pagi.

"Hari Kamis, 11 Oktober 2018, pukul 01.44.57 WIB, wilayah timur laut Situbondo terjadi gempa tektonik di laut," ujar Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muhamad Sadly, Kamis (11/10/2018).

Meskipun kekuatannya cukup besar, hasil pemodelan BMKG menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Berikut enam fakta terkait gempa Situbondo hingga siang ini:

1. Awalnya Diinformasikan Berkekuatan Magnitudo 6,4

Sebelumnya, BMKG mengumumkan kekuatan gempa di Situbondo sebesar magnitudo 6,4 dengan kedalaman 10 kilometer. Namun, data tersebut ternyata keliru dan dimutakhirkan menjadi magnitudo 6,0.

"Selanjutnya setelah pengolahan dilengkapi dengan data gempa hasil catatan dari 156 sensor seismik diperoleh magnitudo hasil pemutakhiran menjadi berkekuatan M=6,0," ungkap Muhamad.

 

2 of 6

2. Guncang 3 Pulau

Gempa Bumi
Ilustrasi Gempa Bumi (iStockphoto)

Meskipun berpusat di laut, gempa ini ternyata berdampak cukup luas di daratan, khususnya Jawa Timur, Madura, dan Bali. Pulau Sapudi dan Kalianget Kabupaten Sumenep merasakan goncangan gempa dalam skala intensitas IV-V MMI (ringan hingga sedang). Wilayah Situbondo, Banyuwangi, Jembrana Bali Barat merasakan gempa dengan intensitas yang lebih ringan, yakni III-IV MMI.

"Sedangkan di Denpasar, Kuta, dan Nusa Dua dirasakan dalam skala intensitas III MMI," kata Muhamad.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkap ada 22 daerah yang merasakan gempa dengan magnitudo 6,3 di Situbondo, Jawa Timur. Gempa yang tak menyebabkan tsunami ini terjadi pada pukul 01.44 WIB, Kamis (11/10/2018).

"Ada 22 daerah yang terkena gempa," kata Sutopo di Jakarta.

Beberapa daerah kabupaten dan kota tersebut, yakni Situbondo, Jember, Banyuwangi, Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Bondowoso, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Kabupaten Mojokerto dan Kota Mojokerto.

 

3 of 6

3. Ada 14 Gempa Susulan

Gempa Situbondo Kuat, Seisi Rumah Sakit di Sumenep Berhamburan Keluar
Gempa Situbondo Kuat, Seisi Rumah Sakit di Sumenep Berhamburan Keluar. (Liputan6.com/Istimewa)

Sejak dini hari hingga pukul 08.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 14 aktivitas gempa susulan (aftershock).

"Gempa susulan paling kuat terjadi pada pukul 02.22 WIB dengan kekuatan 3,5 M dan gempa susulan paling lemah terjadi pada pukul 3.13 WIB dengan kekuatan 2,4 M," papar Muhamad.

Seluruh gempa susulan itu tidak ada yang teridentifikasi berpotensi tsunami. Dari pantauan BMKG, hingga saat ini belum ada gempa susulan di wilayah Situbondo.

 

4 of 6

4. Tak Berhubungan dengan Gempa Palu dan Lombok

Gempa Situbondo menghancurkan tembok rumah warga di Sumenep.
Gempa Situbondo menghancurkan tembok rumah warga di Sumenep. Liputan6.com/Istimewa)

Meski lokasinya berdekatan dengan Lombok, gempa yang terjadi di Situbondo ini tidak ada hubungannya dengan gempa Lombok ataupun Palu.

"Enggak ada hubungannya dengan gempa Lombok yang terjadi beberapa minggu lalu terjadi, di Palu," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, dalam konferensi persnya, di kantor BMKG, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Menurut dia, gempa Situbondo terjadi akibat sesar naik Flores dari verifikasi hasil seismik refleksi yang terbentang dari Bali Timur hingga Flores. Gempa Lombok jga disebabkan oleh sesar naik Flores tetapi mekanismenya berbeda, sementara gempa Palu disebabkan oleh pergerakan sesar Palu-Koro.

"Untuk gempa Lombok dengan Palu jelas mekanisme berbeda. Terindikasi bahwa ini sesar naik Flores," Muhamad Sadly menjelaskan.

 

5 of 6

5. Hancurkan Bangunan Hingga Candi

Kesurakan karena gempa Situbondo
Kerusakan karena gempa Situbondo. (dok BNPB)

Berdasarkan laporan BMKG, hingga pukul 05.30 WIB banyak bangunan rumah yang hancur di Kecamatan Bluto, Kecamatan Kalianget, Kecamatan Batang-Batang, dan Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep. Selain itu, beberapa rumah juga dilaporkan rusak di Kabupaten Jembrana, Bali Barat.

"Sementara Candi Bentar yang terdapat di Jembrana, juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa ini," ujar Muhamad.

Sementara ini, berdasarkan catatan BPBD Jatim dan Sumenep soal gempa Situbondo, kerusakan rumah terjadi di Desa Jambuir, Kecamatan Gayam, Kepulauan Sapudi, Sumenep; di Kopedi, Kecamatan Bluto, Sumenep; Kertasada, Kecamatan Kalianget, Sumenep; Masjid Desa Gendang Timur, Kecamatan Sepudi, Sumenep; dan di Nyabakan Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep.

 

6 of 6

6. Menewaskan 3 Orang

Gempa Situbondo
Kerusakan karena Gempa Situbondo. (dok BNPB)

Selain menghancurkan bangunan, gempa Situbondo juga merenggut korban jiwa. Dari data sementara, dilaporkan tiga orang meninggal dunia di Dusun Jambusok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep.

"Korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Kejadian gempa Kamis dini hari (11/10/2018) saat korban sedang tidur. Tiba-tiba gempa Situbondo mengguncang dan rumah roboh, sehingga korban tidak bisa menyelamatkan diri," tulis Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya.

Tiga korban jiwa tersebut berasal dari Desa Prambanan, Kecamatan Gayam-Sumenep. Korban terdiri dari satu anak-anak dan dua orang dewasa. Ketiga korban tersebut adalah:

1) Nuril Kamiliya (7) Desa Prambanan, Kecamatan Gayam-Sumenep.

2) H. Nadhar (55) Dusun. Jambusok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam-Sumenep.

3) Laki-laki Dewasa (masih identifikasi) Desa Prambanan, Kecamatan Gayam-Sumenep.

Selain itu, Sutopo dalam kicauannya juga menyebut ada empat orang luka-luka akibat gempa tersebut.

 

Reporter: Mellisa Octaviani

Lanjutkan Membaca ↓