DPR Panggil BMKG dan Basarnas Bahas Gempa Palu Rabu Besok

Oleh Liputan6.com pada 02 Okt 2018, 07:46 WIB
Diperbarui 03 Okt 2018, 10:45 WIB
Gempa dan Tsunami Palu

Liputan6.com, Jakarta - Komisi V DPR berencana memanggil Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Rabu 3 Oktober besok. Hal itu terkait bencana gempa di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

"Komisi V akan memanggil BMKG, kalau tidak salah Rabu akan ada rapat dengan BMKG terkait ini bersama Basarnas," kata Anggota Komisi V Alex Indra Lukman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 1 Oktober 2018.

Alex menjelaskan, pemanggilan itu terkait dengan peringatan deteksi tsunami yang sempat ditarik oleh BMKG. Pencabutan itu dilakukan beberapa saat sebelum terjadi tsunami.

"Terkait deteksi tsunami yang peringatannya dicabut terlebih dahulu dan malah kemudian terjadi tsunami setelah itu kita sangat menyesalkan hal sedmikian bisa terjadi. Apalagi sampai menimbulkan korban jiwa yang sangat besar," ungkapnya.

Alex memahami BMKG memiliki kesulitan dana dalam memelihara alat pendeteksi tsunami sehingga tidak bisa memprediksi tsunami secara akurat.

Karena itu, dia berharap pemerintah bisa lebih fokus pada pemeliharaan teknologi untuk menangani bencana.

"Tentu ke depan kita berharap, pemerintah fokus kepada penanganan berteknologi tinggi untuk mengatasi bencana daripada kemudian kita secara rutin harus membereskan pascabencana yang menimbulkan korban besar," ucap Alex.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 of 2

Alat Tsunami Rusak Sejak 2012

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan fakta mengejutkan di balik bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Rupanya, alat deteksi dini tsunami atau Buoy Tsunami di Indonesia sudah tidak bisa dioperasikan sejak 2012.

"Jadi enggak ada Buoy Tsunami di Indonesia, sejak 2012 Buoy Tsunami sudah tidak ada yang beroperasi sampai sekarang, ya tidak ada," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jakarta, Minggu (30/9/2018).

Padahal, menurut dia, keberadaan alat tersebut sangat penting untuk memberikan sinyal potensi tsunami saat gempa terjadi. Apalagi Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah perairan sangat luas.

"Ya kalau menurut saya sangat memerlukan wilayah Indonesia itu yang rawan tsunami. Kejadian tsunami sering terjadi dan menimbulkan banyak korban. Di satu sisi pengetahuan masyarakat, sikap, perilaku, antisipasi tsunami masih sangat minim. Kita memerlukan deteksi tsunami yang ditempatkan di laut," kata Sutopo.

 

Reporter: Sania Mashabi

Sumber: Merdeka.com 

 

Lanjutkan Membaca ↓