Kisah Miris Bayi Gempita dan Lindu Lahir Saat Gempa Guncang Lombok

Oleh Sunariyah pada 29 Agu 2018, 12:50 WIB
Diperbarui 29 Agu 2018, 12:50 WIB
Gempa Lombok
Perbesar
Bayi Gempita dan bersama bayi-bayi lainnya yang dirawat di halaman RSUD Selong, Lombok Timur. (Liputan6.com/Sunariyah)

Liputan6.com, Jakarta - Gempa yang terus menerus mengguncang Lombok selama hampir sebulan, memunculkan banyak cerita. Salah satunya tentang kelahiran bayi-bayi di tengah situasi gempa.

Puluhan bayi telah lahir selama gempa mengguncang Lombok, baik laki-laki maupun perempuan. Karena kondisi masih gempa, bayi-bayi itu pun dirawat seadanya di tenda pengungsian, di halaman rumah sakit atau halaman Puskesmas dengan kondisi panas dan berdebu pada siang hari, dan angin serta cuaca dingin ketika senja mulai tiba.

Seorang bayi perempuan bernama Gempita Agustina, lahir tak lama setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,9, mengguncang Lombok pada Minggu malam, 19 Agustus 2018.

Kepada Liputan6.com, Jumat, 24 Agustus 2018, ayah ibu sang bayi bercerita, ketika gempa mengguncang pada tengah malam, sang ibu yang tengah hamil besar berlari dan terjatuh di tengah sawah. Saat itu juga, sang ibu mengalami pendarahan.

Sesaat setelah bumi sedikit tenang, sang suami membawa istrinya ke Puskesmas terdekat untuk segera ditangani. Namun Puskesmas tersebut menolak karena situasi sedang gempa dan tidak bisa menangani pasien.

Tidak ada pilihan lain, sang suami melarikan istrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah Selong, Kabupaten Lombok Timur, yang jaraknya terbilang jauh dari desanya.

Rumah sakit awalnya sempat menolak karena tidak mmemiliki tempat perawatan. Namun karena sudah menyangkut nyawa ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan, akhirnya ibu 3 anak itu dirawat di halaman rumah sakit.

"Diberi nama Gempita Agustina karena lahir saat gempa dan di bulan Agustus," kata ayah bayi tersebut. Gempita merupakan anak ketiga dari 3 bersaudara.

Tak hanya kisah gempita yang mengharukan. Kisah lain yang juga mengundang sedih adalah kelahiran bayi bernama Lindu Azis Saputra.

Ketika gempa berkekuatan magnitudo 6,9, mengguncang Lombok, Minggu malam 19 Agustus 2018, Lindu (gempa) masih di dalam kandungan dan bersiap untuk lahir. Sang ibu, Roni Rahmawati, yang tengah hamil tua langsung dilarikan dari desanya, di sebuah pesisir di Desa Gunung Malang Labuan Lombok, Lombok Timur, ke lapangan yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

2 dari 2 halaman

Pembukaan 4 di Tenda Pengungsian

Gempa Lombok
Perbesar
Seorang ibu hamil yang sudah pembukaan 4 di tenda pengungsian Kabupaten Lombok Timur, NTB. (Liputan6.com/Sunariyah)

Di lapangan ini, Roni tinggal ditenda seadanya bersama keluarganya dan 2 orang ibu hamil lainnya.

Dua hari setelah gempa, Roni mengalami pembukaan empat, namun tidak ada satu pun bidan atau petugas kesehatan yang bisa menanganinya.

"Sudah cari bidan, tapi nggak ada, bidannya juga ngungsi ke tempat lain," kata suami Roni, Saharuddin, kepada Liputan6.com, Rabu, 22 Agustus 2018.

Di tenda pengungsian dengan kondisi sudah pembukaan empat, Roni dan keluarganya sudah pasrah apapun yang terjadi. Roni kemudian melahirkan esok harinya, Kamis 23 Agustus 2018. Beruntung ada relawan yang mengetahui kondisi Roni, sehingga petugas PMI dapat membawanya ke Puskesmas untuk bersalin.

Saat ditemui lagi di tenda pengungsian, pada Sabtu, 25 Agustus 2018, Roni bersama bayinya, Lindu Azis Saputra, ke Lombok Tengah. Sang bayi mengalami gangguan kesehatan sehingga harus dibawa berobat ke wilayah itu.

Seorang bayi lainnya, yang belum diberi nama lahir setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,9, dan begitu lahir langsung dirawat di halaman rumah sakit dengan kondisi tenda perawatan seadanya, bersama puluhan bayi lainnya yang lahir saat gempa.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓