Bantuan Mandeg di Kantor Desa, Korban Gempa Lombok Hanya Dapat Mi Instan

Oleh Liputan6.com pada 25 Agu 2018, 08:41 WIB
Diperbarui 25 Agu 2018, 08:41 WIB
FOTO: OT Peduli Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Lombok
Perbesar
Warga korban gemba saat mendapatkan bantuan berupa paket sembako, obat-obatan, perlengkapan bayi hingga air kemasan di wilayah Lombok Utara, NTB (21/8). Bantuan OT Peduli bertujuan untuk meringankan warga korban gempa. (Liputan6.com/HO/Iwan)

Liputan6.com, Jakarta Bantuan logistik bencana gempa Lombok yang disalurkan pemerintah maupun donatur dan relawan rupanya banyak yang tertimbun di pemerintahan daerah perwakilan desa.

"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bantuan itu ada masuk ke desa, disaksikan juga sama Pak Bupati Lombok Barat, itu dua pekan yang lalu, sejak gempa 7 SR, tapi sampai sekarang belum juga sampai ke kita," kata Bahrain Arhap Hidayat yang pernah bertugas sebagai kadus Apit Aiq, Desa Batulayar Timur, seperti dikutip dari Antara.

Hal ini disampaikan Bahrain lantaran dia khawatir dengan kondisi masyarakat Lombok yang saat ini mengalami musim paceklik.

"Kalau sudah begini, di mana mau dapat penghasilan," ujarnya.

Begitu juga disampaikan Nursa'ad, yang membuka penginapan gratis bagi para pendaki di Kaki Gunung Rinjani, jalur Senaru, Kabupaten Lombok Utara. Dia melihat bantuan itu masih ada menumpuk di desa, namun anehnya tidak disalurkan secara merata.

"Sebenarnya bantuan itu ada, tapi yang kita terima cuma tiga mi instan dan dua gelas beras, itu pun dapat dua pekan yang lalu," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Munawir Haris, Ketua Yayasan Anak Pantai yang ada di Dusun Pelabuhan Pandan Tengah, Desa Pelabuhan Pandan, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.

Dia mengaku kecewa dengan kabar yang menyiarkan pemerintah telah bekerja dan menyalurkan bantuan logistik bagi korban gempa Lombok hingga ke pelosok daerah yang sulit terjangkau dengan kendaraan besar.

Padahal untuk menuju desanya yang berada di pesisir pantai Timur Laut Pulau Lombok tidak sulit. Kawasan yang berada dekat dengan episentrum gempa dahsyat pada Minggu 19 Agustus 2018 itu terdapat di antara jalur utama provinsi.

Dari hasil pengamatan timnya di lapangan, warganya dan dusun maupun desa tetangganya belum juga merasakan adanya peran pemerintah sejak gempa pertama yang terjadi pada akhir Juli lalu.

"Kita ini seperti anak ayam kehilangan induk, kemana pemerintah. Ini bukan maksud mendiskreditkan pemerintah, tapi memang begitu kondisinya di lapangan," kata Haris.

 

2 dari 3 halaman

Minta Pemerintah Pantau Bantuan

Karena itu, pemerintah disarankan untuk kembali memantau bantuan yang telah disalurkan ke desa. Dengan mengandalkan peran dan fungsi tiga pilar, kades, babinsa maupun bhabinkamtibmas dinilai warga belum maksimal untuk mengawasi penyalurannya.

"Begini saja, sekarang siapa yang tidak butuh, apalagi sekarang musim dingin, terpal dan selimut, harga mahal dan sulit kita dapat. Jadi harus benar-benar di monitor, jangan asal lepas-lepas saja," kata Rozikin, korban gempa asal Dusun Ceking, Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah.

Rozikin yang mendedikasikan dirinya ikut bergabung dalam tim relawan desa di wilayahnya mengatakan hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah.

"Apalagi pascagempa Minggu (19/8/2018) kemarin, semakin banyak yang roboh. Belum ada bantuan, parah," ucapnya.

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓