4 Vaksin yang Pernah Jadi Kontroversi di Indonesia

Oleh Liputan6.com pada 23 Agu 2018, 07:24 WIB
Diperbarui 25 Agu 2018, 07:13 WIB
20160629-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta - Pro-kontra vaksinasi di Indonesia terus merebak. Ada yang mendukung agar anak-anak diberi vaksin, ada pula yang menolak. Alasannya, mulai dari isu keselamatan, efektifitas, dan agama.

Padahal vaksin seyogyanya diberikan agar anak kebal dari penyakit. Jika satu anak tak diberi vaksin dan dia menyebarkan penyakit, maka penyakit tersebut akan menular pada anak-anak lainnya.

Pemberian vaksin dalam tubuh juga mencegah seseorang terjangkit penyakit serius.

Berikut beberapa vaksin yang pernah jadi kontroversi di masyarakat:

2 of 5

1. Vaksin HPV

Pernah tersebar informasi, jika vaksin HPV bisa bikin mandul atau osteoporosis. Namun faktanya, itu hoaks. Tujuan pemberian vaksin HPV adalah untuk menangkal kanker hati dan kanker serviks. Kanker inilah yang paling ditakuti oleh wanita.

Terkait pandangan yang salah soal vaksin HPV tersebut, dokter spesialis penyakit dalam dari In Harmony Clinic, Kristoforus Hendra Djaya, menegaskan bahwa vaksin HPV hanya menangkap sel kanker yang masuk ke serviks, sehingga tidak ada efek samping yang ditakutkan itu.

"Memang akan timbul efek ringan setelah divaksin HPV, tapi itu pertanda vaksin bekerja di tubuh pasien. Tubuh menunjukkan reaksi bikin antibodi," kata dia pada sebuah diskusi belum lama ini.

3 of 5

2. Vaksin MMR

Vaksin MMR adalah vaksin yang diberikan dengan tujuan agar tubuh terlindung dari penyakit gondong, campak, dan rubella. Namun beredar kabar bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan anak mengalami autisme.

Sebenarnya, autisme merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi komunikasi, perilaku, dan interaksi sosial, dan ini terkait dengan genetik dan lingkungan. Belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

4 of 5

3. Vaksin Measles Rubella (MR)

Vaksin MR atau Rubella menjadi polemik di kalangan masyarakat, karena bahannya yang terbuat dari unsur babi dan organ tubuh manusia. Banyak yang meragukan kehalalan vaksin ini.

Meskipun begitu, MUI memutuskan vaksin MR saat ini dibolehkan (mubah), untuk imunisasi. Karena kondisi terpaksa dan belum ditemukan vaksin halal yang cocok untuk rubella.

Fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi itu diputuskan pada Senin 20 Agustus 2018 malam dan disahkan oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF beserta Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Sholeh.

5 of 5

4. Vaksin Tetanus

Kasus vaksin tetanus terjadi di Palembang. JM (9), siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yayasan Al-Hikmah meninggal usai disuntik vaksin tetanus. Tak terima, orang tua JM melaporkan kejadian ini pada polisi. Namun setelah diselidiki, JM meninggal bukan karena disuntik vaksin tetanus, melainkan terkena radang otak.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, dr Letizia, mengungkapkan diagnosis tersebut berdasarkan hasil penelitian dari Komisi Daerah Penanggulangan dan Pengkajian Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI) bekerjasama dengan Balai POM Palembang. Tim dokter menemukan fakta bahwa korban menderita accute disseminated encephalomyelitis atau radang otak bersamaan dengan imunisasi.

Tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan pasca imunisasi. Artinya, terjadi koinsiden atau kebetulan kejadian bersama-sama dengan pemberian imunisasi terhadap korban, ungkap Letizia.

Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Sumber: Merdeka.com

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

Saksikan video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓