Panglima TNI Perintahkan Prajurit Waspadai Ancaman Cyber Narcoterorism

Oleh Dian Kurniawan pada 18 Jul 2018, 08:58 WIB
Tito Karnavian Dianugerahi Bintang Kartika Eka Paksi Utama TNI AD

Liputan6.com, Jakarta - Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto memerintahkan prajurit dijajarannya mewaspadai perkembangan terbaru seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi dengan munculnya jaringan kejahatann Cyber Narcoterorism.

Kelompok ini menggunakan dunia maya sebagai wahana untuk mengedarkan dan menyalahgunakan Narkotika yang hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme.

Hal tersebut dikatakan Panglima TNI dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Wakil Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Wadan Lantamal) V Surabaya Kolonel Marinir CTO Sinaga pada upacara bendera Tujuhbelasan bulan Juli yang digelar di lapangan Yos Sudarso Markas Komando Lantamal V, Jln. Laksda M. Nasir No. 56 Tanjung Perak, Surabaya, Selasa, 17 Juli 2018.

"Kejahatan lintas negara ini akan menjadi ancaman serius dan sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia. Kelompok "Cyber Narcoterorism" menggunakan beragam situs terkemuka seperti youtube, twitter dan facebook untuk tujuan merebut pangsa pasar, penyebaran pemikiran, dorongan, perekrutan dan berbagai informasi," tutur Wadan Lantamal V Surabaya Kolonel Marinir CTO Sinaga dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com.

Hal ini menjadi sebuah cara yang paling efektif dalam melakukan aksi yang diinginkannya. "Cyber Narcoterorism" yang menjadi musuh bersama bangsa lndonesia saat ini, bahkan menjadi musuh bangsa-bangsa di dunia," tegas dia.

Seluruh jajaran TNI ini juga harus siap mengantisipasi perkembangan situasi agar kita tidak terdadak menghadapi spektrum ancaman yang semakin kompleks.

"Sekecil apapun peran dan tugas yang kita miliki merupakan penentu keberhasilan setiap tugas yang di emban oleh TNl, karena kita berada dalam satu kesatuan sistem,” pungkas dia.

2 of 2

Prihatin Kecelakaan Kapal

Selain Cyber Narcoterorism, Panglima TNI juga prihatin terhadap peristiwa kecelakaan pelayaran, selama bulan Juni dan Juli tahun 2018.

Kecelakaan pelayaran terjadi di Tanah Air, mulai dari tenggelamnya kapal tradisional KM Arista di perairan Makassar, tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba yang menelan ratusan korban yang dinyatakan hilang, serta yang terakhir terjadi di awal bulan Juli adalah Kapal Feri Lestari Maju yang tenggelam di perairan Selayar, Sulawesi Selatan.

Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk benar-benar melaksanakan prosedur yang telah digariskan dengan baik dan disiplin," ucap Sinaga. 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait