Kopi Pagi: Mereka Terkubur di Dasar Danau Toba

Oleh Rinaldo pada 08 Jul 2018, 07:15 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Sikap pemerintah menghentikan upaya evakuasi korban KM Sinar Bangun menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Kapal Motor Sinar Bangun tenggelam pada 18 Juni lalu saat cuaca buruk melanda Danau Toba. Kapal yang diterjang gelombang besar ini terbalik dan akhirnya tenggelam.

Hanya 21 orang selamat dan tiga orang ditemukan tewas. Sedangkan sekitar 164 orang lainnya dinyatakan hilang di dasar danau toba. Upaya mencari para korban dilakukan oleh tim gabungan dengan menggunakan berbagai peralatan. Mulai melibatkan kapal milik warga, peralatan bawah laut, hingga helikopter.

Seperti ditayangkan Liputan6SCTV, Minggu (8/7/2018), setelah 10 hari melakukan pencarian, Tim SAR Gabungan dengan menggunakan remotely operated vihicle atau rov akhirnya menemukan lokasi bangkai kapal di kedalaman 420 meter akhirnya menemukan bangkai KM Sinar Bangun.

Sementara jenazah para korban berada di kedalaman 450 meter. Namun meski posisi kapal dan korban ditemukan, pemerintah menilai secara teknis evakuasi tidak mungkin dilakukan. Bila dipaksakan diangkat kapal bisa saja meledak.

Hanya sekitar dua pekan setelah tragedi tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun peristiwa tenggelamnya kapal yang memakan korban jiwa kembali terjadi. Kapal Motor Lestari Maju yang mengalami kebocoran di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan dalam perjalanan dari Pelabuhan Bira menuju Pelabuhan Pamatata, Selayar. Nahkoda kapal akhirnya berinisiatif mengandaskan kapal.

Seluruh penumpang panik dan berusaha mengenakan pelampung sebelum keluar dari kapal. Beberapa penumpang bahkan nekat melompat tanpa pelampung. Akibat peristiwa ini dari 191 penumpang, sebanyak 35 orang meninggal dunia dan satu orang hilang.

Banyaknya kecelakaan kapal, terutama kapal kecil menunjukan faktor keselamatan masih memprihatinkan. Banyak peraturan yang dilanggar seperti dalam kasus KM Sinar Bangun, sertifikat yang diterbitkan Dinas Perhubungan Sumatera Utara, kapal hanya memiliki satu geladak dengan 45 penumpang.

Namun kenyataannya saat tenggelam kapal memiliki tiga geladak, disesaki ratusan penumpang, dan puluhan sepeda motor di sisi kiri dan kanan kapal. Tak heran, begitu ada gelombang besar kapal begitu mudah terbalik dan tenggelam.

Menjadi tugas pemerintah untuk membenahi masalah pelayaran di tanah air. Mengingat Indonesia memiliki perairan yang sangat luas dengan 17 ribu lebih pulau. Jangan sampai peristiwa serupa terulang kembali. (Ridho Insan Putra)