Jenazah Terduga Teroris Dibawa ke RS Bhayangkara Jatim, Penjagaan Diperketat

Oleh Liputan6.com pada 15 Mei 2018, 19:36 WIB
Brimob perketat penjagaan usai janazah seorang terduga teroris dibawa ke RS Bhayangkara (Merdeka.com/Ahda Bayhaqi)

Liputan6.com, Jakarta Jenazah terduga teroris yang baku tembak dengan anggota Densus 88 di Jalan Sikatan, Tandes, Surabaya, Jawa Timur, dibawa ke kamar mayat RS Bhayangkara. Anggota Brimob pun memperketat pengamanan di lokasi.

Pantauan di lokasi, satu mobil jenazah tiba sekitar pukul 18.20 WIB. Mobil tersebut hanya mengangkut satu jenazah yang diduga anggota jaringan terkait teror Surabaya dan Sidoarjo.

Penindakan terduga teroris merupakan pengembangan terhadap kelompok jaringan teror Surabaya dan Sidoarjo. Densus 88 baku tembak dengan seorang pria berumur sekitar 39-41 tahun. Pelaku terpaksa ditindak tegas lantaran melawan petugas saat penangkapan.

Saat ini peristiwa tembak-menembak telah selesai. Kejadian diperkirakan berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB.

"Pelaku melawan petugas sehingga dilakukan penindakan. Seorang laki-laki usia 39-41 tahun," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera di Mapolda Jatim, Selasa (15/5/2018).

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini

2 of 2

Rentetan Serangan

Aksi Serangan Teroris
Ilustrasi Foto Teroris (iStockphoto)

Seperti diketahui, bom mengguncang Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, dalam dua hari. Tiga gereja menjadi sasaran pertama pada Minggu (13/5) pagi. Semuanya adalah bom bunuh diri. Korban pun berjatuhan.

Ketiga gereja adalah Gereja St. Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Jalan Diponegoro, dan GKI Wonokromo di Jalan Arjuno. Ketika gereja itu meledak, durasinya hanya berselang belasan menit saja.

Pasangan suami istri Dita Oepriarto dan Puji Kuswati menjadi pelaku utama. Mereka melibatkan empat anaknya, yakni F (12), P (9), Y (18), dan F (16). Semuanya tewas.

Selain tiga gereja itu, bom tiba-tiba meledak di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. Tiga orang tewas adalah Anton Febrianto (47), Puspita Sari 47 tahun (istri Anton) dan L 17 tahun (anak pertama Anton). Tiga yang terluka A 15 tahun (anak kedua Anton), F 11 tahun (anak ketiga Anton) dan G 11 tahun (anak keempat Anton).

Sehari kemudian, bom bunuh diri terjadi di pintu pemeriksaan Mapolrestabes Surabaya. Diketahui pelaku pasangan suami istri, Tri Mulyono (50) dan Tri Ernawati (43). Mereka juga mengorbankan tiga anaknya.

Reporter: Ahda Bayhaqi 

Lanjutkan Membaca ↓