Petualangan Ekstrem di Sudut Priangan

Oleh Yusron Fahmi pada 30 Apr 2018, 06:01 WIB

Liputan6.com, Tasikmalaya - Cirahong, jembatan unik dengan dua fungsi, perlintasan kereta api di tingkat teratas dan kendaraan tepat di bawahnya. Bangunan ikon, penghubung Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya. Di bawah lalu lalang kereta api dan kendaraan bermotor, sekelompok muda-mudi bermain dengan bahaya.

Inilah rapeling, teknik menuruni struktur vertikal dengan menggunakan perlengkapan khusus. Dan muda-mudi itu tergabung dalam Training Camp Tasikmalaya, komunitas pemuja petualangan ekstrim dari jantung bumi priangan timur. Olahraga ekstrem ini tak lagi didominasi kaum pria.

Meski baru bergabung dua bulan, Vina tak luput menjajal keberanian menuruni jembatan berketinggian lebih dari 60 meter. Sadar akan risiko besar, faktor keamanan jadi prioritas utama. Ini jadi tugas dan tanggung jawab para anggota senior, salah satunya pria yang biasa disapa Ivan.

Tak sekadar urusan nyali, rapeling sepenuhnya bergantung pada kesiapan peralatan. Kecelakaan dapat berakibat fatal atau bahkan membuat nyawa melayang. Namun buat anggota touring camp, ini jadi pemenuhan hasrat dasar manusia, yakni tantangan.

Pemilihan tempat bukan semata tantangan, tetapi juga ada aspek tertentu. Salah satunya, sisi historis dari Cirahong, situs cagar budaya yang dibangun tahun 1893 silam. Alunan musik enerjik menggema dari sanggar seni putra pajajaran di Manonjaya, tak jauh dari kota Tasikmalaya.

Inilah Rampak Gendang, kesenian tradisional Jawa Barat. Buat Vina, seni tari lebih dari gerak harmonis dalam lagu. Tarian, terutama jaipong adalah media menyampaikan aspirasi yang sulit diungkapkan lewat kata. Di sanggar ini, Vina dan kawan-kawan menemukan arti sejati jaipong.

Jaipong menyuarakan emansipasi, lahir dari perlawanan terhadap pandangan stereotip wanita Sunda yang dituntut anggun menjaga tingkah dan laku. Kini, wanita Sunda mesti lugas dan dinamis.