Menaker: Lembaga Pendidikan Harus Mampu Menyesuaikan Diri di Era Digital

Oleh Cahyu pada 15 Apr 2018, 19:06 WIB
Diperbarui 17 Apr 2018, 18:13 WIB
Menteri Tenaga Kerja, Muhammad Hanif Dhakiri. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purbalingga Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi turut berpengaruh terhadap perkembangan dunia industri. Karena itu, lembaga pendidikan harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar mampu mengantisipasi dampak perubahan yang terjadi.

"Industri kita sudah berubah. Mau enggak mau pendidikan kita juga harus berubah agar bisa tetap bertahan dan berkembang di era digital," ujar Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker), M. Hanif Dhakiri, saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Pra Muswil PWNU Jawa Tengah di Pendopo Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (14/4/2018).

Menurutnya, perubahan industri akan menyebabkan kebutuhan jenis-jenis pekerjaan berubah. Dengan adanya perubahan jenis pekerjaan, keterampilan yang dibutuhkan pun ikut berubah.

"Kalau industri berubah, pekerjaannya berubah, keterampilannya juga berubah, tapi pendidikannya tidak berubah, maka akan ketinggalan," ucap Hanif.

Secara umum, ia menjelaskan bahwa lembaga pendidikan harus memperhatikan 5K untuk menyiapkan output yang kompetitif di tengah perubahan industri tersebut. Pertama, karakter.

SDM kompetitif tidak hanya ditentukan dengan penguasaan skill semata. Namun lebih dari itu, Hanif mengatakan bahwa karakter merupakan fondasi utama bagi SDM Indonesia untuk mampu bersaing dengan SDM negara lain.

"Namun landasan utamanya tetap karakter, sedangkan keterampilan dan sebagainya itu bisa diintervensikan," kata dia.

Selanjutnya, keterampilan. Lembaga pendidikan harus menyesuaikan antara supply and demand, yakni pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

"Agar bisa terserap pasar kerja atau berwirausaha," ujar Hanif.

Ketiga, kolaborasi. Ia menilai bahwa daya saing bukan hanya persoalan persaingan satu sama lain, tetapi juga bisa berkolaborasi atau bekerja sama membangun jejaring dengan berbagai pihak. Keempat, kontribusi atau produktivitas.

"Jadi generasi masa depan ini harus dipersiapkan menjadi generasi produktif," ucap Hanif.

Terakhir, kreatifitas atau inovasi. Untuk mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, ia menilai lembaga pendidikan harus bisa mendorong siswanya menjadi kreatif dan inovatif.

Dengan sikap kreatif dan inovatif, Hanif yakin setiap orang akan tetap eksis di tengah berbagai perubahan yang ada.

"Karena, saat ini tenaga kerja tidak bisa hanya berbekal tenaga dan kemudian bekerja saja. Sekarang tenaga kerja itu harus berbasis pengetahuan, berbasis inovasi," kata dia.

Turut hadir dalam seminar tersebut, Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Asisten III Bidang Administrasi Sekda Provinsi Jawa Tengah Budi Wibowo, Bupati Purbalingga Tasdi, dan Forkopimda Kabupaten Purbalingga.

 

 

(*)