Dahnil Muhammadiyah: Yang Disebut Rocky Gerung Itu Fiksi Bukan Alquran

Oleh Muhamad Ridlo pada 15 Apr 2018, 14:12 WIB
Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak dalam Tabligh Akbar dan Orasi Kebangsaan Muskerwil Pemuda Muhammadiyah di Majenang, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Beberapa hari terakhir, pernyataan kontoversial pengamat politik Rocky Gerung di sebuah acara televisi bikin heboh tanah air. Sejumlah kalangan menganggap Rocky kebablasan ketika menyatakan bahwa kitab suci adalah fiksi.

Bahkan, ada pula yang melaporkan ke kepolisian lantaran menilai Rocky Gerung telah menyinggung seluruh umat beragama di Indonesia. Ia pun dilaporkan atas dugaan penyebaran ujaran kebencian.

Menanggapi itu, Ketua Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjutak berujar, untuk menilai sebuah pernyataan tertentu, maka harus melihat latar atau konteks peristiwa pernyataan itu dikeluarkan.

Ia mengaku tak mendalami pernyataan Rocky Gerung yang menyatakan bahwa Kitab suci adalah hal fiksi. Akan tetapi, melihat konteksnya, ia menilai saat itu Rocky Gerung tak bermaksud menista kitab suci atau agama.

Menurut Dahnil, Rocky hanya ingin menjelaskan bahwa selama ini banyak yang salah mendefinisikan fiksi. Sebab, fiksi tak berarti sebuah kebohongan.

Saat itu, Rocky Gerung pun telah menjelaskan bahwa yang dimaksud fiksi bukanlah kebohongan. Fiksi bisa jadi kebenaran. Pengolahan istilah fiksi secara politislah yang membuat fiksi menjadi salah kaprah.

2 of 3

Pernyataan Rocky Gerung Tak Perlu Dipermasalahkan

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak dalam Tabligh Akbar dan Orasi Kebangsaan Muskerwil Pemuda Muhammadiyah di Majenang, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak dalam Tabligh Akbar dan Orasi Kebangsaan Muskerwil Pemuda Muhammadiyah di Majenang, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

"Nah, saya pikir, dalam konteks itu kan cara berpikir, bahwa pola pikir kita salah. Dia hanya mengolah istilah, dengan pendekatan filsafat," Dahil menjelaskan.

Ia pun menganggap bahwa ucapan Rocky Gerung tak harus dipermasalahkan. Sebab, ia sama sekali tak menyebut satu pun kitab suci yang dimaksud.

"Saya tidak mendalami itu ya, pada prinsipnya. Tetapi bagi saya tidak harus menjadi masalah. Yang dimaksud Pak Rocky itu kan bukan Alquran itu fiksi. Dia tidak menyebut kitab suci tertentu kan, sama sekali," dia menerangkan.

Dahnil mencontohkan peristiwa di masa Nabi Muhammad SAW, yang bagi sebagian orang adalah fiksi, tetapi bagi orang lain adalah kebenaran yang benar-benar diyakini.

3 of 3

Risalah Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

Dahnil Anzar Simanjuntak berfoto dengan Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah dan Kokam. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Dahnil Anzar Simanjuntak berfoto dengan Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah dan Kokam. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Peristiwa itu adalah Isra Mikraj. Rasulullah saat itu mengaku telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha, dalam waktu semalam.

Pada zaman itu, perjalanan secepat itu seolah mustahil. Sebab itu, banyak yang menggapnya tak masuk akal.

Namun, ada yang langsung memercayai Rasul. Dia adalah Abu Bakar. Abu Bakar Assyidiq tetap percaya di tengah sejumlah kalangan yang meragukan pengakuan sang Rasul.

“Kemudian secara ilmiah dikembangkan dengan ilmu fisika. Relativitas dan segala macam. Ini kemudian jadi fiksi ilmiah. Jadi pemahaman fiksi yang dia maksud itu bukan, kebohongan. Fiksi itu, bisa juga menjadi kebenaran,” dia menerangkan.

Menurut Dahnil, dalam konteks ini lah Rocky mengistilahkan fiksi. Fiksi, jika diyakini, maka akan menjadi kebenaran. Fiksi yang diamini adalah sesuatu yang ghoib. Dan Ghoib, dalam ajaran Islam adalah sesuatu yang diyakini keberadaannya.

Nah jika fiksi itu kemudian diyakini. Satu-satunya orang memercayai pengakuan Rasul berjalan dalam satu malam dari Baitul Muharam ke Masjidil Aqsa dan ke Sidratul Muntaha, itu adalah Abu Bakar.

“Bahkan ia disebut sebagai Al Amin. Nah itu fiksi yang diamini, itu adalah sesuatu yang ghoib. Ghoib itu kan dianggap fiksi. Tetapi kalau itu diyakini, maka itu menjadi kebenaran, dia menjadi keyakinan, dia menjadi agama,” dia menegaskan.

Lanjutkan Membaca ↓