Potret Nyanyian Alam Orang Rimba

Oleh Raden Trimutia Hatta pada 09 Apr 2018, 10:24 WIB
Diperbarui 09 Apr 2018, 10:24 WIB

Liputan6.com, Sumatera - Senandung harap bergema di hutan hujan pedalaman Sumatera. Bersamaan dengan pasak yang menghujam pokok pohon sialang atau kedondong, dua lelaki orang rimba memanjatkan puja dan puji ke hadirat dewata.

Melantak prosesi orang rimba membuat anak tangga sebelum memanen madu. Prosesi yang dilakukan meratai, yang diturunkan secara lisan kepada anak mantu. Termasuk mewarisi pengetahuan tentang waktu yang tepat memetik madu dan pastinya bukan di siang hari.

Masyarakat yang masih memegang kuat peradaban awal berburu dan mengumpulkan apa yang disediakan alam. Inilah keluarga Meratai atau yang akrab disapa Bapak Bejoget. Kelompok orang rimba yang masih setia menjaga belantara Sumatera.

Tak ada gaduh politik apalagi ujaran kebencian. Keluarga Bapak Bejoget tak menuntut banyak dan hanya keluar rimba seminggu sekali saat hari pasar tiba.

Petang menyingsing Bapak Bejoget bersiap menyadap karet.

Inilah komoditas sumber utama penghasilan satu-satunya aktivitas budi daya yang dikenal orang rimba. Seperti berburu mamalia penunggu hutan semisal kelinci atau kancil dengan metode yang sangat sederhana.

Orang rimba dan hutan penyatuan diri saling mengisi saling menopang. Seperti bilah-bilah rotan ini. Hasil hutan yang sangat dinantikan tokek atau pengepul dengan banderol Rp 10 .000 per empat meter

Di bawah teduhnya rimba, bocah-bocah rimba tiada mengenal lamunan. Keceriaan hakiki dari keharmonisan manusia dan lingkungan. Selaras dalam budaya lisan yang terus dilestarikan lewat corong radio.

Benor, radio dari dan untuk orang rimba yang diprakarsai Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi. Media penyampai informasi internal dan jembatan komunikasi dengan orang desa, sebutan untuk orang kebanyakan.

Repertoar gurindam dan seloka berisi pesan warisan leluhur menggema di seputar wilayah Taman Nasional Bukit 12. Pesan untuk tetap menjaga alam di tengah roda zaman yang terus berputar. Pesan tentang hutan yang kian tergerus akibat illegal logging dan alih fungsi lahan.

Kenyataan yang membuat beberapa kelompok orang rimba berada di persimpangan.

Marta dari KKI Warsi terus menyelami kehidupan komunitas yang juga kerap disapa suku anak dalam ini. Mencari solusi bagi kumpulan manusia lepas dan bebas. Peradaban nomaden yang esensinya tak membutuhkan tempat tinggal permanen. Selalu berpindah termasuk ketika momen ada anggota keluarga yang meninggal alias melangun.

Tak mengenal tulisan, asal-usul orang rimba berselimut kabut misteri. Ada yang menyebut pelarian bala tentara kerajaan sriwijaya atau pagaruyung hingga cerita yang dibungkus mitos.

Meski tak seperti lazimnya suasana di sekolah, generasi penerus orang rimba menikmati betul momen belajar di rumah singgah. Mereka bebas menentukan waktu agar kegiatan membaca, menulism dan berhitung tak menjemukan.

Mendobrak pemahaman bukanlah perkara mudah karena pendidikan yang dirintis sejak dua dekade silam oleh Warsi bagi orang rimba dianggap melanggar aturan adat.

Siswa sekolah ini tak lain adalah anak rimba yang tinggal sementara di rumah singgah. Mereka memang sengaja menginap sambil menunggu uang jajan yang diantar orang tua dari dalam hutan.

Seiring tumbuhnya semangat mengenyam pendidikan termasuk keluarga meratai, ada yang mereka tak suka. Mereka mentah-mentah menolak disebut sebagai suku kubu karena itu mengesankan kebodohan dan keterbelakangan.

Meratai tak ingin anak-anaknya ditindas orang luar yang membalak kayu atau ditipu dengan iming-iming tertentu.

Senja merambat ke malam. Saatnya meratai dan anak-anaknya menjalani rutinitas turun temurun: memetik sarang lebah.

Tak perlu meragukan kepiawaian orang rimba menelusuri seluk beluk belantara. Mereka percaya, hutan beserta isinya akan menjaga mereka.

Kulit kering ini sengaja dibakar meratai untuk mengalihkan amarah ribuan lebah yang sarangnya diusik. Bara yang beterbangan membuat lebah hutan yang sensitif terhadap cahaya lupa akan sarang mereka.

Keluarga meratai pun panen madu. Suplemen istimewa orang rimba. Sumber kalori nomor wahid.

Mereka tak akan pernah berhenti merangkai asa bertahan hidup di belantara yang terus tergerus zaman.