Din Syamsuddin: Indonesia Belum Masuk Tahap Negara Gagal

Oleh Liputan6.com pada 05 Apr 2018, 17:39 WIB
Diperbarui 05 Apr 2018, 17:39 WIB
Bahas Penganiayaan Tokoh Agama, MUI Undang BNPT dan Bareskrim
Perbesar
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin (tengah) bersama Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (kiri) dan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Ari Dono Sukamto saat menghadiri rapat pleno di kantor MUI, Jakarta (21/2). (Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Jakarta Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin tidak sepakat anggapan Indonesia akan jadi negara gagal dalam beberapa tahun ke depan. Indonesia saat tidak dalam kategori akan menjadi negara gagal.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menyampaikan, ada tujuh indikator negara gagal. Beberapa di antaranya yaitu keganjilan distribusi aset negara atau tidak adanya pemerataan, korupsi yang merajalela, dan konflik anak bangsa akibat egoisme.

"Berdasarkan indikator yang ada, Indonesia belum masuk fail state," ujar Din Syamsuddin dalam acara sarasehan Pergerakan Indonesia Maju (PIM) di Jalan Brawijaya VIII, Jakarta Selatan, Kamis (5/4/2018).

"Dan saya kira Indonesia belum sampai ke tingkat itu. Sehingga saya tidak setuju Indonesia akan jadi negara gagal," sambungnya.

Din mengatakan, Pergerakan Indonesia Maju (PIM) sengaja mengambil tema sarasehan "Indonesia Menjadi Negara Berhasil" karena semua pihak harus bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara berhasil, juara, dan pemenang.

Dengan demikian, dia menyayangkan muncul pesimisme dari sebagian kalangan bahwa Indonesia akan jadi negara bubar.

"Ada pesimisme tak hanya akan jadi negara gagal, tapi juga akan jadi negara bubar," ucapnya.

Dengan menggunakan kata "berhasil" atau "pemenang", potensi besar bangsa Indonesia dapat teraktualisasi.

"Kami sengaja gunakan istilah 'menjadi' karena punya makna filosofis dalam filsafat eksistensial. Keberadaan suatu bangsa tak sekadar berada, tapi mengada. Menampilkan eksistensinya dan mengaktualisasikan potensi itu," kata Din Syamsuddin.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 2 halaman

RI Punya Potensi Besar

Bahas Penganiayaan Tokoh Agama, MUI Undang BNPT dan Bareskrim
Perbesar
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin bersama Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (kiri) dan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Ari Dono Sukamto saat menghadiri rapat pleno di kantor MUI, Jakarta (21/2). (Liputan6.com/JohanTallo)

Din Syamsuddin menyampaikan bangsa Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang besar. Potensi ini bisa dikelola demi kemajuan bangsa dan negara. Untuk mengelola besarnya SDA ini, perlu kepercayaan diri dari para elemen bangsa.

Menurutnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki daya juang kuat. Karena itulah, optimisme harus diciptakan.

Sebelumnya, ramalan soal Indonesia bubar 2030 disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Mengenakan kemeja putih dan berpeci hitam, ia berdiri di atas podium dengan penuh semangat.

Dengan nada berapi-api, Prabowo Subianto mengutarakan tentang potensi buruk yang akan dialami Ibu Pertiwi. Tahun 2030, Indonesia diprediksi bakal bubar.

"Saudara-Saudara. Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030," kata Prabowo dalam video yang diunggah akun Facebook Gerindra, Senin, 19 Maret 2018.

"Bung, mereka ramalkan kita ini bubar," tegasnya lagi.

Prabowo pun menyinggung soal aset yang dimiliki negara hanya dikuasai satu persen. Begitu juga kekayaan Indonesia yang malah dibawa dan dimanfaatkan ke luar negeri.

"Ini yang merusak bangsa kita, Saudara-Saudara sekalian. Semakin pintar, semakin tinggi kedudukan, semakin curang, semakin culas, semakin maling. Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi," tutur Prabowo dalam video itu.

 

 

'Reporter: Hari Ariyanti 

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓