Indo Barometer: Retorika Prabowo Mirip Jurus Donald Trump

Oleh Yunizafira Putri Arifin Widjaja pada 03 Apr 2018, 18:03 WIB
Diperbarui 03 Apr 2018, 18:03 WIB
Prabowo Memberikan Keteranangan Usai Daftarkan Partainya Gerinda
Perbesar
Ketum Gerindra Prabowo Subianto memberikan keterangan kepada awak media usai mendaftarkan partainya Gerinda di Kantor KPU, Jakarta, Sabtu (14/10). Partai Gerindra resmi mendaftarkan sebagai peserta Pemilu 2019 ke KPU. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, akhir-akhir ini seringkali melontarkan ucapan kontroversial di hadapan publik. Pengamat Politik Indo Barometer, Muhammad Qodari menilai, perilaku Prabowo mirip Donald Trump, ketika mengikuti pemilu presiden tahun 2016 silam.

"Saya kira, pak Prabowo sedang meniru jurusnya Donald Trump pas pemilu Amerika 2016 itu retorikanya mirip sekali dengan Prabowo sekarang," ucap Qodari, kepada Liputan6.com, Selasa (3/4/2018).

Beberapa lontaran Prabowo memicu perdebatan. Misalnya saja, ia menyebut Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Prabowo juga mengatakan 80 persen kekayaan negara dikuasai hanya satu persen golongan.

Menurut Qodari, ada kesamaan narasi yang dikonstruksikan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut dengan Donald Trump, yakni menyebar pesimisme dan ketakutan masyarakat.

Qodari mencontohkan, ketika berkampanye Donald Trump juga menyebar rasa pesimisme ke tengah masyarakat Amerika Serikat. Ia mengatakan Amerika tak hebat lagi, dikalahkan Tiongkok.

"Kemudian kalangan pekerja dipertentangkan dengan kelangan elit, hati-hati dengan kalangan imigran Meksiko, Islam. Itu kan miriplah dengan kondisi sekarang," ujarnya.

Menurut Qodari, kemiripan lainnya terlihat karena keduanya merupakan bagian dari elit politik itu sendiri. Meskipun, keduanya kerap menyerang elit politik lainnya.

"Sebetulnya dia (Prabowo) sendiri bagian dari elit. Elit dari jaman dulu, dia adalah keluarganya Cendana. Si Donald Trump juga gitu bagian dari elit," katanya.

 


Sentuh Emosi

Prabowo Sampaikan Materi di Conference on Indonesia Foreign Policy 2017
Perbesar
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyampaikan materi saat menjadi narasumber dalam Conference on Indonesia Foreign Policy 2017 di Jakarta, Sabtu (21/10). Diskusi tersebut membahas sebuah percakapan bipartisan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Qodari menuturkan, perilaku kedua tokoh itu seakan ingin menyentuh sisi emosi masyarakat. Caranya, lanjut dia, menekankan hal-hal negatif yang ada pada pemimpin petahana saat ini. Hal itu bertujuan menarik para pemilih.

"Jadi cara melawan petahana dengan mengatakan hal-hal jelek. Dengan asumsi bahwa, kalau masyarakat menilai (pemimpin) yang sekarang dan ke depan itu jelek, maka larinya akan ke penantang (oposisi). Itu sih saya kira teori yang dipakai. Yang sedang disentuh emosi atau faktor emosi," tuturnya.

Meskipun begitu, Qodari belum bisa meramalkan apakah yang dilakukan Prabowo saat ini akan menjadi blunder bagi dirinya sendiri atau justru menaikan elektabilitasnya.

Namun, ia meyakini apa yang dilakukan Prabowo merupakan bagian dari strategi politik yang telah disiapkannya.

"Ya, bagian dari dinamika politik, strategi politik, yang disiapkan oleh Pak Prabowo. Jurus ini mau dipakai karena melihat Donald Trump dulu menang. Kita cek aja surveinya, belum ada surveinya soalnya. Ya untuk pastinya kita liat aja kedepan," pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya