Cerita Malik, Presenter Transgender Pertama di Pakistan

Oleh Rinaldo pada 30 Mar 2018, 08:55 WIB
Diperbarui 30 Mar 2018, 08:55 WIB

Liputan6.com, Pakistan - Meski perayaan Hari Raya Paskah sudah semakin dekat, musim dingin di Jerman masih tampak belum akan berakhir. Terutama di Jerman Utara dengan kondisi salju dan temperatur membeku yang ekstrem. Hujan salju lebat turun semalaman di Pulau Ruegen yang diperparah dengan angin kencang.

Akibatnya, arus lalu lintas terganggu akibat tumpukan salju yang juga memicu sejumlah kecelakaan, penutupan jalan, dan kemacetan. Berita ini mengawali Jendela Dunia dalam Liputan6 Malam SCTV, Jumat (30/3/2018).

Peraih Nobel Perdamaian 2014, Malala Yousafzai menyatakan senang bisa kembali ke Pakistan untuk pertama kalinya, sejak ia ditembak oleh militan Taliban yang marah akan aksi Malala mengkampanyekan pendidikan untuk anak-anak perempuan.

Hal ini diungkapkan Malala pada upacara yang berlangsung di kantor Perdana Menteri Shahid Khaqan Abbasi, serta memastikan akan terus melanjutkan kampanyenya. Malala selamat meski ditembak dibagian kepala pada tahun 2012 saat berusia 14 tahun.

Malik, presenter berita transgender pertama di Pakistan buka suara. Malik yang bekerja sebagai pembaca berita di jaringan TV swasta Kohenoor Kota Lahore, menyatakan kegembiraannya karena diterima dengan tangan terbuka untuk berkerja di stasiun televisi tersebut.

Malik mengalami masa sulit sebelumnya setelah diminta meninggalkan rumah oleh orang tuanya setamat SMA dan bekerja di bidang kecantikan untuk bisa mengambil sekolah jurnalistik.

Umat Katolik di Yerusalem Palestina melaksanakan upacara pembasuhan kaki di Gereja Suci Sepulchre. Pelaksanaan rangkaian tiga hari suci ini berlangsung di lokasi yang di yakini sama dengan tempat Yesus Kristus dimakamkan dan dibangkitkan.

Upacara pembasuhan yang berlangsung di momen Kamis Putih ini bermakna bahwa pemimpin adalah pelayan.