Aryo Djojohadikusumo: Generasi Muda Indonesia Tak Siap Hadapi Era Digital

Oleh Merdeka.com pada 28 Mar 2018, 19:18 WIB
Diperbarui 30 Mar 2018, 19:13 WIB
Ilustrasi media sosial

Liputan6.com, Jakarta Wasekjen Gerindra, Aryo Djojohadikusumo mengatakan, kondisi generasi muda Indonesia belum siap menghadapi era digital. Data Bank Dunia menyebutkan, sekitar 39 persen lebih anak di Indonesia masih kekurangan gizi.

"Hampir 40 persen anak Indonesia kekurangan protein. Jadi buat apa bicara coding, software dan sebagainya, kalau tertidur saat sekolah, bagaimana mau belajar fisika dan matematika kalau kurang gizi?" ujarnya dalam seminar yang digelar Fraksi Partai Gerindra dengan tema 'Revolusi Putih untuk Generasi Bangsa yang Sehat dan Berprestasi' di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/3).

Aryo menilai, langkah Presiden Jokowi menggemakan Ekonomi Digital beberapa waktu lalu dinilai masih percuma dengan kondisi kesehatan generasi muda saat ini.

Aryo membuktikan masih meluasnya persoalan gizi di masyarakat saat melakukan tugas reses selama menjalani fungsi sebagai anggota DPR RI.

"3,5 tahun menjalani anggota DPR dengan lima kali reses dalam satu tahun. Dengan segala hormat kepada pemerintah, keluhan masyarakat itu soal gizi," ujarnya.

Karena itu, Aryo menilai sila-sila menggelorakan 'Kita Pancasila' tapi faktanya keadilan sosial belum terwujud.

"Karena itu saya bersyukur ke Pemprov DKI yang akan menjalankan Revolusi Putih tahun 2018 berupa subsidi susu, telur dan kacang hijau," tambahnya.

 

2 of 2

Revolusi Putih

[FOTO] Semangat Kompetisi Para Caleg Muda
Aryo P.S.Djojohadikusumo calon anggota legislatif dari Gerindra. Menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan darah muda untuk kemajuan bangsa (Liputan6.com/Rini Suhartini).

Revolusi Putih adalah pemikiran Prabowo dan Partai Gerindra untuk membangun karakter bangsa yang sehat dan kuat. Salah satu caranya menjadikan susu sebagai konsumsi anak-anak setiap hari.

Dengan gerakan ini, diharapkan anak-anak Indonesia dapat menjadi generasi penerus yang kuat dan cerdas dalam mengemban amanat-amanat kebangsaan pada masa-masa berikutnya.

Reporter:  Randy Ferdi Firdaus

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓