Serapan Anggaran Rendah, Sandiaga: Perencanaannya Begitu

Oleh Delvira Hutabarat pada 27 Mar 2018, 22:15 WIB
Diperbarui 27 Mar 2018, 22:15 WIB
Sandiaga Uno Kunjungi Pasar Gede
Perbesar
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Saniaga Uno kunjungi Pasar Gede Solo untuk sosialisasikan calon Gubernur Jawa Tengah, Sudirman Said - Ida Fazia.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Liputan6.com, Jakarta - Penyerapan anggaran Pemprov DKI Jakarta pada triwulan pertama baru 8,1 persen atau hanya Rp 5,8 triliun dari total APBD 2018 sebesar Rp 71,1 triliun.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, alasan masih rendahnya serapan anggaran karena terkendala perencanaan.

"Kendalanya perencanaannya memang begitu. Jadi mereka baru April, Mei, Juni baru dikebut. Baru mulai diserap besar-besaran di tiga bulan terakhir," kata Sandiaga di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (27/3/2018).

Sandiaga pun meminta anak buahnya mengebut untuk mempercepat penyerapan anggaran DKI. Menurutnya tidak hanya DKI yang mengalami penyerapan anggaran yang rendah.

"Ini sudah berulang kali tahun ke tahun dan Pak Joko Widodo sudah sampaikan ini secara nasional. Tapi di DKI kita sudah lakukan satgas dan kita ingin lakukan perubahan," katanya.

Politisi Gerindra itu menyebut telah membuat tim atau satgas khusus untuk mendorong percepatan penyerapan anggaran

"Kebetulan saya bikin sendiri sama Pak Sekda kita ingin efek tongkat hoki itu bisa dieliminir tahun ini," ucapnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Target Rp 7 Triliun

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno melaporkan SPT Pajak Tahunan. (Liputan6.com/Ilyas Istianur P)
Perbesar
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno melaporkan SPT Pajak Tahunan. (Liputan6.com/Ilyas Istianur P)

Diketahui, data serapan anggaran dilihat dari situs publik bapedadki.net. Data di sana menunjukkan serapan anggaran paling tinggi ada di pos belanja tak langsung yakni sekitar Rp 3,627 triliun, sedangkan serapan langsung justru hanya sebesar Rp 2,391 triliun.

Sebelumnya, pada awal tahun 2018, Sandiaga menargetkan penyerapan Rp 6 triliun sampai Rp 7 triliun setiap bulannya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya