Abdul Karim Oey, Tokoh Muslim Tionghoa Sahabat Bung Karno

Oleh Liputan6.com pada 23 Feb 2018, 15:03 WIB
Diperbarui 23 Feb 2018, 15:03 WIB
Tokoh Muslim Tionghoa, Abdul Karim Oey. (buku Tokoh Tionghoa & Identitas Indonesia/Komunitas Bambu)
Perbesar
Tokoh Muslim Tionghoa, Abdul Karim Oey. (buku Tokoh Tionghoa & Identitas Indonesia/Komunitas Bambu)

Liputan6.com, Jakarta - "Di samping muslim yang taat, dia pun dipupuk, diasuh dan menjadi seorang nasionalis Indonesia sejati," begitu Buya Hamka menggambarkan teman dekatnya, Abdul Karim Oey.

Dari namanya, sudah bisa diterka, Abdul Karim Oey atau Oey Tjeng Hien merupakan seorang beretnis Tionghoa. Dia bukan sembarang orang, perannya dalam pergerakan bangsa cukup besar. Tak hanya itu, Karim Oey juga punya jasa besar dalam perkembangan ajaran Islam di Indonesia.

Oey, yang orangtuanya asli negeri Tiongkok ini lahir di keluarga yang cukup berada. Oey muda dulu berusaha menemukan jati dirinya lewat agama.

Setelah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya Abdul Karim Oey memutuskan memeluk Islam. Saat itu di tahun 1930-an, sesuatu yang jarang terjadi seorang Tionghoa memeluk Islam.

Keputusan ini membuat dia dijauhi oleh komunitas Tionghoa. Sebaliknya, suku Melayu menerima Oey dengan tangan terbuka. Sejak saat itu, Oey dekat dengan orang-orang Melayu.

"Ananda adalah orang yang mampu, orang keturunan baik-baik mengapa mau masuk suku Melayu, pakaian jorok dan serba buruk itu," kata ayah Oey, seperti yang dikutip dari buku Tokoh Tionghoa dan Identitas Indonesia yang ditulis Leo Suryadinata dan diterbitkan Komunitas Bambu tahun 2010.

Akan tetapi, Oey tetap pada pendiriannya. Bahkan pada akhirnya, Oey yang membuat ayahnya masuk Islam juga. Pendiriannya terhadap agama ini dia wujudkan juga dengan mendirikan cabang Muhammadiyah. Dari sini, dia memulai aktivitas dakwah dan perdagangannya.

Di Bengkulu, Abdul Karim Oey dekat dengan para tokoh, termasuk ayah dari istri Presiden Sukarno, Fatmawati, Hasan Din. Saat pemilihan konsul Muhammadiyah, Bung Karno yang saat itu dibuang ke Bengkulu, memilih Oey untuk menduduki jabatan Ketua Cabang Muhammadiyah Bengkulu.

Dengan Bung Karno, Oey sudah seperti sahabat. Dia kerap berdiskusi mengenai masalah keislaman, atau soal kebangsaan.  Bahkan Soekarno tak segan meminta bantuan Oey dalam segala urusan.

Bukan hanya dengan Soekarno, Oey juga dekat dengan Buya Hamka. Ketiganya bersahabat cukup lama.

2 dari 2 halaman

Gabung Masyumi

20160611- Aktivitas Masjid Lautze Jelang Buka Puasa-Jakarta-Yoppy Renato
Perbesar
Aktivitas Masjid Lautze Jelang Buka Puasa. (Liputan6.com/Yoppy Renato).

Di era Orde lama, Oey memutuskan masuk ke Partai Masyumi, tetapi tak lama partai ini bubar. Oey mendirikan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) pada 1963. Organisasi bentukan Oey ini berkembang pesat di penjuru Tanah Air. Dalam organisasi ini orang-orang Tionghoa totok dirangkul dan diberi pengetahuan.

Oey juga berjuang agar Alquran dan majalah Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa. Pengaruh PITI pun meluas hingga PITI bukan hanya milik orang Tionghoa, melainkan juga warga pribumi.

Memasuki era Soeharto, organisasi ini dipermasalahkan akibat pemakaian kata "Tionghoa". Di tahun 1972, atas perintah Jaksa Agung, PITI dibubarkan. Oey tak kehabisan akal, dia mengubah nama PITI dengan nama berbeda, tapi singkatan sama, yaitu PITI (Pembina Iman Tauhid Islam).

Oey terus aktif dalam organisasi keislaman. Dia wafat 13 Oktober 1988 dalam usia 83 tahun.

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓