Mendagri Tjahjo Ajak Seluruh Pihak Bersinergi Atasi KLB di Asmat

Oleh Muhammad Ali pada 18 Jan 2018, 06:40 WIB
Diperbarui 18 Jan 2018, 06:40 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Kejadian luar biasa atau KLB campak dan gizi buruk yang menyerang para balita di empat Distrik dan tujuh Kampung di Kabupaten Asmat sejak bulan September 2017 telah mengakibatkan 61 balita meninggal dunia. Sebanyak 175 pasien campak dan gizi buruk menjalani rawat inap, sedangkan 393 pasien menjajani rawat jalan di RSUD Asmat.

Seperti ditayangkan Liputan6 Malam SCTV, Kamis (18/01/2018), besarnya dampak penyebaran penyakit ini membuat pemerintah pusat segera mengirimkan bantuan. Pengiriman bantuan dilakukan Mabes TNI dengan menggunakan pesawat Hercules. Sebanyak 53 personel dari Mabes TNI serta 30 Personel Kodam 17 Cenderawasih dan Korem 174 ATW Rabu siang tiba Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua.

Tim Bhakti Kesehatan TNI beranggotakan dokter spesialis dari berbagai matra akan diterbangkan ke Kabupaten Asmat dengan membawa obat-obatan dan bahan makanan untuk disumbangkan ke sejumlah rumah sakit.

Sementara itu di Jakarta, Menteri Dalam Negeri (mendagri), Tjahjo Kumolo meminta kepada Kepala Daerah agar berkoordinasi dengan aparat di tingkat paling bawah sehingga deteksi dini terhadap kondisi masyarakat bisa cepat teratasi.

"Tingkat kecamatan harus ada rakor dengan tingkat kabupaten kota, begitu juga dengan tingkat provinsi harus rakor dengan tingkat kabupaten kota. Jadi, semua harus bersinergi agar masalah ini dapat teratasi," kata Mendagri Tjahjo Kumolo. 

Menurut mendagri, masalah transportasi dan kurangnya tenaga medis menjadi kendala utama dalam penanganan wabah campak disertai gizi buruk di Kabupaten Asmat.