Kecewa, Alumni 212 Pecah Kongsi dengan Gerinda dan PKS?

Oleh Yunizafira Putri Arifin WidjajaNanda Perdana Putra pada 13 Jan 2018, 12:14 WIB
reuni 212

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif menegaskan, kecewa dengan keputusan Gerindra, PAN, dan PKS di Pilkada Jawa Timur. Penyebabnya, ketiga partai itu berkoalisi dengan PDIP.

"Seperti di Jawa Barat, kan kami dukung itu. Berbeda dengan di Jawa Timur, ya enggak kami dukung. Kecewa lah," ujar Slamet ketika dihubungi Liputan6.com, Sabtu (13/1/2018).

Kekecewaan ini terkait sikap partai itu yang dianggap tidak memperhatikan rekomendasi Alumni 212 untuk pilkada.

"Di beberapa tempat sudah bagus, sedangkan di tempat lain rekomendasi teman-teman ulama ini tidak diperhatikan, dan itu kita belum rapat lagi bagaimana," ucap Slamet.

Meskipun begitu, ia dan Presidium Alumni 212 tetap akan menyikapi keputusan tersebut dengan tenang. Karena yang terpenting, kata dia, sikap solid ketiga partai itu.

"Dalam waktu dekat kita akan rapat. Kita koordinasi dengan Habib Rizieq (Ketua Front Pembela Islam) dulu, karena kita ulama ini dipimpin Rizieq," ujar Slamet.

 

1 of 2

Bantah 5 Nama

Kongres Alumni 212
Presidium Alumni 212 menggelar jumpa pers di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. (Liputan6.com/Rezki Apriliya Iskandar)

Sebelumnya beredar informasi yang menyebutkan, Alumni 212 merekomendasikan kepada Gerindra untuk mencalonkan lima nama di pilkada.

Saat dikonfirmasi, Slamet mengatakan, semua itu hanyalah masukan atau saran dari ulama. Tidak masalah jika saran tersebut tidak dijalankan.

"Tidak, kami tidak memberikan nama-nama untuk maju dicalonkan. Iya, itu masukan lah dari musyawarah ulama. Toh, partai juga suka datang meminta masukan soal siapa yang baik untuk dicalonkan. Ya, enggak apa-apa kalau memang enggak juga, selama kriterianya sama," tutur Slamet.

Soal rekomendasi lima nama ini, Slamet mengatakan, itu merupakan pernyataan pribadi bukan atas nama gerakan atau Presidium Alumni 212.

"Enggak ada, itu dari pribadi aja itu, bukan atas nama gerakan, kami enggak pernah minta begitu," ujar Slamet.

Meski demikian, Slamet berharap tiga partai tersebut tidak meninggalkan mereka. Slamet pun menegaskan, gerakannya bukan sekadar wadah untuk menaikkan suara pemilih.

"Gini ya, pemilu itu hak, bukan kewajiban. Kalau mau haknya digunakan boleh, kalau enggak juga boleh. Kalau mereka butuh suara umat Islam, kita punya kekuatan itu, ya kita akan gunakan. Tapi kalau suara kita didompleng saja, kemudian setelah itu ditinggal dan aspirasinya tidak dipakai, untuk apa begitu," tegas Slamet.

Soal rekomendasi Alumni 212 untuk pilkada, diungkapkan pertama kali oleh mantan Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti pada konferensi pers di Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, Kamis 11 Januari 2018.

"Bisa saya buktikan dari 171 pilkada di seluruh Indonesia, yang diminta sama ulama 212 hanya 5," ujar La Nyalla saat membeberkan soal uang politik yang harus dibayar jika ingin ikut Pilkada Jatim.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

 

Lanjutkan Membaca ↓
Wahyudi Yudistira YudistiraWahyudi Yudistira Yudistira

hadeh...politik juga ujung2 y..

Raden UjangRaden Ujang

Ada kendaraan baru di 2019..

ronde aroronde aro

makanha partai berkuasa juga harus sering tamasya unjuk gigi sedikit jangan mentang mentang udah nyaman berkuasa gag unjuk gigi untuk turun ke jalan entah namanya safari keq atau deklarasi kebhinekaan pancasila setiap kali alumni 212 turun ke jalan pdip harus buat tandingan yg sepadan ormas khan dihimoun kita juga bisa himoun apalagi parpol penguasa bisa kasih subsidi ke ormas pancasila

Lihat Lainnya