Hipnotis Dangdut Koplo

Oleh Rinaldo pada 04 Des 2017, 06:43 WIB
Diperbarui 04 Des 2017, 06:43 WIB

Liputan6.com, Kediri - Musik atraktif berpadu lirik sederhana namun lugas, percampuran bahasa Indonesia dan Jawa Timuran. Lewat Nella Kharisma dan Via Vallen, dangdut koplo kembali menghebohkan kancah musik Tanah Air.

Jumlah penonton video klip 'Jaran Goyang' dan 'Sayang' tersebut melejit di kisaran 100 juta viewers. Candu koplo merambah media sosial juga menghidupkan kembali penjualan keping rekaman pertunjukan atau VCD.

Ritme kendang koplo lebih cepat dan membakar semangat. Hasrat untuk berkarya inilah yang coba digadang-gadang delapan perempuan jelita orkes melayu New Ken Dedes.

Menolak dianggap bermodal paras, keterampilan bermusik tetap jadi prioritas. Koplo pun padu padan dangdut klasik dengan kesenian tradisional yang akrab di tengah masyarakat. Sejak terbentuk dua tahun lalu di Kota Kediri, Epep dan kawan-kawan terus bereksplorasi mengobarkan gairah lewat alunan dangdut.

Embun belum beranjak pergi di Desa Babadan, Kediri, Jawa Timur, ketika Epep kembali ke rutinitas. Dara berusia 22 tahun ini tak sungkan membantu sang ayah mencari pakan ternak.

Meski tanpa musik, alunan gendang erat dalam keseharian gadis pemilik nama asli Evi Endriani. Roda berputar, demikian pula kisah perkenalan Epep dengan kendang yang menjadi instrumen musik identik dengan kaum hawa.

Helai demi helai rumput memberi penghidupan, demikian pula dangdut buat Epep. Dangdut hadir dari rakyat dan menghidupkan mimpi serta mengiringi cita-cita.

Dangdut memang identik dengan gendang. Tetapi, rohnya tak bisa dipisahkan dari lengkingan seruling.

Butuh konsentrasi mengombinasikan hela napas dan gerak jari. Menjaga keseimbangan alunan nada sebagai roh dendang koplo.

Sejarah lahirnya dangdut koplo masih di ranah perdebatan. Namun semua sepakat genre musik akar rumput ini muncul saat kejenuhan melanda. Ritmis cepat yang membawa penikmatnya bergairah dalam perpaduan nada instrumen musik kontemporer dan tradisional.

Sementara itu, bicara koplo tentu tak lepas dari sensualitas. Tak melulu bicara moralitas karena bagi rakyat harus ada cara lepas dari penat dan rutinitas.

Senggakan dan sorakan usil yang menyelip di tengah lagu jadi identitas musikal dangdut koplo. Kata-kata spontan bentuk dari ekspresi kebebasan dari seni pertunjukan tradisional seperti tari jaranan.

Namun demikian, dangdut koplo tak bakal hidup tanpa dukungan konstituen penggemarnya. Penggemar menjadi titik penentu hidup atau matinya nada dan lirik centil khas koplo.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya