Peringati Sumpah Pemuda, 6 Ribu Orang Menari di Perbatasan

Oleh Andry Haryanto pada 29 Okt 2017, 09:02 WIB
Diperbarui 29 Okt 2017, 09:02 WIB
Tari kolosal di Belu, NTT (Liputan6.com/Istimewa)
Perbesar
Tari kolosal di Belu, NTT (Liputan6.com/Istimewa)

Liputan6.com, Belu - Di lereng bukit itu, lebih dari enam ribu orang berjajar. Tiba-tiba puluhan orang berkuda keluar dari balik bukit seakan mengejar musuh di bawah sana.

Di bawah lereng, para pria menari sambil membawa pedang. Sementara para wanita beserta anak-anak menari sambil menabuh tihar (kendang kecil), seakan membakar semangat dalam perang.

Likurai, nama tarian perang asal Kabupaten Belu, NTT itu dipertontonkan dalam Festival Fulan Fehan, Sabtu 28 Oktober 2017. Tarian kolosal yang dikoreograferi Profesor Eko Supriyanto ini berhasil menyabet penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) karena dilakukan lebih dari 6.000 orang.

Hadir dalam acara ini, Mendagri Tjahjo Kumolo, Anggota DPR dari NTT Herman Hery, Bupati Belu Willybrodus Lay dan ribuan warga setempat. Sebelum tarian kolosal ini digelar, dilaksanakan juga upacara di atas bukit yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

"Saya apresiasi Bapak Bupati, Bapak Herman Hery dan seluruh masyarakat Belu yang telah bergotong-royong memperingati Sumpah Pemuda, meski di tengah terik matahari seperti ini," kata Mendagri Tjahjo dalam pesan tertulis kepada Liputan6.com, Minggu (29/10/2017).

Festival Fulan Fehan ini bukan saja sebagai peringatan Sumpah Pemuda, tetapi merupakan bagian memperlihatkan kejayaan Indonesia di beranda terdepan Negara Republik Indonesia.

Herman Herry di tempat sama mengatakan, Festival Fulan Fehan merupakan wujud komitmen masyarakat Belu dan pemerintahan daerah setempat.

"Bahwa harga diri bangsa yaitu NKRI sedang kita pertontonkan kepada dunia internasional dan kepada semua pihak," tegas Herman.