Buwas: Senjata BNN yang Tertahan di Bengkulu Sudah Selesai

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 05 Okt 2017, 14:07 WIB
Diperbarui 05 Okt 2017, 14:07 WIB
20151218-Jelang Libur Tahun Baru, Buwas Panggil Pengelola Hotel dan Tempat Hiburan Malam-Jakarta
Perbesar
Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso memastikan masalah senjata api milik institusinya yang sempat tertahan di Bandara Fatmawati, Bengkulu, sudah selesai.

"Sudah selesai kok," ucap Budi saat dihubungi di Jakarta, Kamis (5/10/2017).

Senjata yang diketahui milik BNN berjumlah 10 koli sempat tertahan di Bandara Fatmawati, Bengkulu pada Rabu, 4 Oktober 2017 kemarin. Dari hasil pengecekan, muatan itu berisi lima pucuk senjata api Saiga-12CEXP-01 kaliber 18,3 mm, 21 pucuk senjata pistol jenis CZ P-07 kaliber 22 mm, 42 sarung pistol, dan 21 buah rompi antipeluru.

Sejumlah senjata itu akan ditujukan kepada Adi Darmawanto di Jalan Glatik Atas Nomor 30 RT 10/RW 09, Bengkulu. Pengirimnya, BNN RI Jalan MT Haryono Nomor 11 Cawang Jakarta. Barang-barang sempat ditahan oleh Kasrem 041/Gamas bersama Danlanal Bengkulu di terminal kargo Bandara Fatmawati Bengkulu.

Sebelumnya, Kepala BNN Komjen Budi Waseso atau Buwas menyatakan, institusinya tidak memesan senjata dari Pindad. Meski begitu, dia memastikan bahwa pembelian senjata BNN telah sesuai prosedur.

"Senjata BNN memang dibeli oleh negara. Jadi, semua tahu. Negara tahu BNN punya senjata apa dan jenisnya apa saja," ujar Buwas di Kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu 27 September 2017.

Dia menjelaskan, kaliber senjata yang dimiliki anggota BNN berbeda dengan senjata milik TNI-Polri. Menurut dia, BNN selama ini menggunakan senjata kaliber sipil.

"Jadi yang kita pakai semua ini standar sipil. Walaupun kemampuan mirip-mirip, identifikasinya beda. Peluru yang saya punya, enggak kepakai di TNI-Polri, begitu pun sebaliknya," ujar Buwas.

2 dari 2 halaman

Pindad Belum Produksi

Perbedaan itu pula yang membuat BNN tidak membeli senjata dari Pindad. Sebab, saat ini perusahaan pelat merah itu belum memproduksi senjata dengan kaliber yang dipakai BNN.

"Tapi nanti kalau (Pindad) sudah membuat, kita utamakan produk dalam negeri. Sementara ini kita menggunakan produk luar negeri, karena kita belum bisa produksi kaliber itu," ucap Buwas.

Buwas memastikan tidak ada senjata ilegal di lembaganya. Penggunaan senjata di BNN juga diawasi dengan ketat. Tidak semua anggota BNN memiliki izin menggunakan senjata tersebut.

"Yang jelas tidak ada senjata ilegal di BNN. Insyaallah semua tertib. Kita harus waspada, senjata legal bisa jadi ilegal kalau digunakan secara ilegal," ujar jenderal bintang tiga itu.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓