Pengakuan WNI Korban Janji Manis Palsu ISIS

Oleh Rita Ayuningtyas pada 15 Sep 2017, 06:31 WIB
Diperbarui 15 Sep 2017, 06:31 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Lebih sebulan tiba kembali di Tanah Air, Dilfansyah Rahmani dan orangtuanya kini bisa hidup tenang. Dia bersama orangtua, adik, dan anaknya, sempat bergabung menjadi anggota negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS, dan tinggal di Raqqah, Suriah pada 2016.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Jumat (15/9/2017), dia terbuai janji-janji manis yang ditawarkan seperti penghasilan besar, aneka fasilitas seperti rumah, pendidikan dan kesehatan gratis, serta kehidupan yang nyaman menurut tuntunan agama. Hal itu pula yang membuat keluarga besar Dilfansyah membulatkan tekad bertolak ke Suriah.

Namun setiba di Suriah, mimpi itu tinggal mimpi. Kenyataanya, jauh pangang dari api. Tidak sepeserpun uang mereka terima, bahkan ketika menanyakan janji-janji manis ISIS, justru intimidasi yang didapat.

Ketika mencari cara untuk keluar dari Suriah, masalah baru datang. Anggota termuda keluarga ini, Febri Ramdani datang menyusul.

Setelah melalui jalan panjang berliku, termasuk melewati medan pertempuran, keluarga ini akhirnya bisa terhubung dengan petugas Kedutaan Besar Indonesia. Mereka baru dinyatakan aman setelah berhasil tiba di tempat penampungan.

Perjalanan yang melelahkan dan menguras emosi itu mengajarkan satu hal, ISIS hanya menjual kebohongan.

Sejak tiba kembali di Tanah Air pada 12 Agustus 2017, 18 warga Indonesia termasuk keluarga Dilfansyah Rahmani --yang pernah bergabung dengan ISIS, menjalani pelatihan dan deradikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sebelum kembali ke tengah masyarakat.