Benteng Terakhir Ketoprak Tobong

Oleh Raden Trimutia Hatta pada 11 Sep 2017, 06:09 WIB
Diperbarui 11 Sep 2017, 06:09 WIB

Liputan6.com, Yogyakarta - Hanya berjarak kurang dari satu jam dari pusat kota, tempat itu seolah tak tersentuh deru modernitas. Malam belum begitu larut ketika satu-satunya kelompok ketoprak tobong yang tersisa di Yogyakarta naik pentas.

Kelana Bhakti Budaya, inilah benteng terakhir seni pentas drama tradisional khas tanah Jawa. Namun, jangan berharap suasana kebyar dan riuh penonton. Meski sepi penonton, pertunjukan jalan terus rutin setiap Jumat malam.

Suryadi bersama sang istri merupakan segelintir seniman yang masih setia berlakon di atas panggung. Gurat bahagia masih terpancar meski lelah tak bisa dibendung.

Sementara itu, uang kontribusi alias honor jelas tak sebanding. Masing-masing maksimal mengantongi Rp 25 ribu.

Namun demikian, seni tradisi bagian yang tak terpisahkan dari Suryadi dan istri. Ketoprak menjadi nafas dan saksi pertautan cinta.

Hidup untuk ketoprak, bukan berarti ketoprak bisa menghidupi. Soal penghasilan, warung sederhana dan panggilan mendalang lebih realistis. Ini bukan soal memburu materi, Suryadi dan Kariyem kadung puas jika hasrat berkesenian tercurah.

Sementara itu, tobong artinya bangunan bersifat semi permanen. Jadi, sejatinya seni ketoprak satu ini berpindah-pindah ketika masih digandrungi hingga pertengahan dekade 1990-an.

Di tengah jejeran kursi besi usang yang menjadi saksi bisu masa kejayaan ketoprak, Dwi Tartiyasa mereka-reka cerita baru. Pria sepuh hampir 70 tahun itu mafhum ketoprak mesti berimprovisasi dan berinovasi agar dapat diterima khalayak luas.

Lakon baru, penghayatan baru. Semua sepakat soal motivasi ketoprak tobrak tak boleh lekang oleh zaman.

Beda dengan pentas wayang orang, tema ketoprak tak terbatas pada kisah Mahabharata dan Ramayana. Lewat cerita rakyat, ketoprak memberi kebebasan berekspresi. Unsur drama, roman, aksi, dan tak ketinggalan jenaka menyatu dalam seni teater khas Jawa.

Dedikasi dan cinta. Tanpa sepasang kata itu mustahil suryadi dan istri setia menempuh jarak 16 kilometer dari rumahnya di Desa Joho, Klaten, ke lokasi tobong di Cangkringan, Sleman. Kesahajaan memupuk kreativitas dan rasa memiliki meski secara finansial tak menjanjikan.

Sementara itu, penuangan merupakan istilah untuk pengarahan sutradara sebelum tampil. Tak ada skrip, sutradara hanya melempar arahan garis besar cerita yang disambut dengan improvisasi para pelakon.

Jangan harap menemukan ruang khusus dan juru rias seperti sebuah pertunjukan megah atau menemukan kosmetik bermerek ternama. Di tobong, semua berbalut kesederahanaan.

Di tengah kondisi miris, selalu terselip senyum dan keceriaan. Lagi-lagi penonton yang datang tak seberapa.

Tetapi, inilah ketoprak tobong. Sedikit atau banyak penonton yang datang, selama ada karcis yang tersobek, pantang pertunjukan dibatalkan.

Ketoprak sejatinya tontonan yang mengandung tuntunan. Di Yogyakarta, Suryadi dan kawan-kawan menjaga eksistensi ketoprak tobong. Di Kota Budaya ini ketoprak tobong bertaruh, lestari atau mati.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya