Lais, Akrobatik Khas Garut yang Menolak Punah

Oleh Yusron Fahmi pada 04 Sep 2017, 02:59 WIB
Diperbarui 04 Sep 2017, 02:59 WIB

Liputan6.com, Garut - Beraksi belasan meter di atas tanah menantang hukum gravitasi. Tanpa alat pengaman hanya berteman tambang yang membentang di antara dua bambu. Lais, seni pertunjukan akrobatik khas Garut, Jawa Barat.

Panca Warna Medal Panglipur satu dari segelintir padepokan lais yang masih eksis di tengah gerusan zaman. Sejatinya, permainan penuh risiko dan bahaya ini hanya untuk orang bernyali tebal.

Lais dan pencak silat ibarat mata uang yang bersisian. Pencak Silat Panglipur diyakini mampu mengasah keberanian dan ketangkasan, dua aspek penting dalam atraksi lais.

Saat ini grup kesenian Panca Warna Medal Panglipur sudah berusia hampir satu abad. Namun demikian, sehebat apapun atraksi tanpa regenerasi tentu tradisi ini bakal tinggal cerita.

Melestarikan lais bukan perkara mudah. Pimpinan grup lais Panca Warna Medal Panglipur, Ade Dadang, dituntut menemukan formula pas agar anak-anak tak takut beratraksi di ketinggian. Bukan mimpi menjadi Spiderman atau super hero.

Latihan demi latihan lah yang membuat mereka mahir berakrobat. Namun, risiko besar tak menyurutkan nyali.

Sementara itu, lais sendiri dipercaya berasal dari kata 'Laisan' yang merupakan nama pemanjat pohon kelapa di masa kolonial. Laisan dipercaya sebagai pemanjat pohon kelapa ulung dari Sukawening, Garut.

Berawal dari keterampilan yang menghibur di masa kolonial Belanda, kesenian sirkus khas bumi Swiss Van Java ini kini terancam punah.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya