Menristek Godok Aturan Buka Program Studi Kekinian ala Jokowi

Oleh Ahmad Romadoni pada 24 Agu 2017, 14:18 WIB
Diperbarui 24 Agu 2017, 14:18 WIB
20151228- Refleksi Akhir Tahun Kemenristekdikti Mohamad Nasir -Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir tengah berupaya menyesuaikan regulasi pendidikan dengan kemajuan zaman. Salah satunya terkait pembentukan program studi baru yang sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah berulang kali menyatakan SMK dan perguruan tinggi bisa membuat program studi atau jurusan yang lebih kekinian. Sebut saja, manajemen logistik, animasi, dan artificial intelegence.

"Jadi sesuai arahan Bapak Presiden, harus dilakukan secepat-cepatnya untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap regulasi-regulasi yang menyangkut di pendidikan tinggi," kata Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 23 Agustus 2017.

Dia mengatakan, selama ini, jurusan yang ada di perguruan tinggi itu-itu saja. Mahasiswa terbatas dalam memilih, seperti jurusan ilmu ekonomi, hukum, FISIP, teknik, atau pertanian.

Ke depan, Nasir ingin jurusan itu lebih detail sehingga bisa memenuhi perkembangan zaman. Tinggal pembuatan regulasi dan platform agar jurusan itu bisa segera terbentuk.

"Nah sekarang ada yang lebih detail prodi-prodi itulah yang bisa kita kembangkan. Yang bisa kita angkat lebih luas lagi, sehingga bisa melakukan perubahan-perubahan dengan cepat," ujar Menristekdikti.

 

2 dari 2 halaman

Jurusan Monoton

Presiden Jokowi mengatakan kini tidak bisa lagi, misalnya, pendidikan vokasional, pendidikan kejuruan, training vocational, training skill. Kemudian perguruan tinggi dan universitas-universitas itu monoton dan rutinitas seperti yang dihadapi sekarang.

Dia memberikan contoh, misalnya SMKS sudah berjalan puluhan tahun. "Yang namanya jurusan di SMK itu jurusan hanya jurusan bangunan, jurusan listrik, jurusan mesin. Mestinya jurusan-jurusan ini juga harus diganti dengan perubahan-perubahan yang ada," tutur Jokowi.

"Bisa saja di situ jurusan animasi, jurusan video, jurusan retail misalnya," ujar Jokowi di Bali 4 Agustus 2017.

Demikian juga perguruan tinggi, menurut dia, berpuluh-puluh tahun selalu jurusannya adalah jurusan-jurusan yang itu-itu saja. Seperti jurusan ekonomi, jurusan hukum, dan sosial politik. Tidak pernah kita berani detail masuk ke hal-hal yang dibutuhkan sekarang ini.

"Kita terlalu linier, terlalu rutinitas, padahal perubahan-perubahan ini sangat cepat sekali," ucap Presiden Jokowi.

Mestinya, ucap Presiden, fakultas-fakultas mulai ke hal-hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat, hal-hal yang dibutuhkan oleh industri, hal-hal yang dibutuhkan oleh pasar, ke hal-hal yang dibutuhkan oleh negara.

Jokowi memberi contoh, misalnya kenapa tidak ada fakultas Human Resources Management, fakultas logistik, fakultas retail platform, fakultas khusus mengenai packaging, fakultas mengenai e-sport, atau fakultas mengenai green building.

Saksikan video di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓