Menelusuri Jejak Pancasila di Kota Ende

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada pada 14 Agu 2017, 20:04 WIB
Sukarno

Liputan6.com, Ende - Ende, adalah salah satu kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kota dengan luas wilayah 2.046 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 238 ribu jiwa ini ternyata memiliki sejarah penting bagi Indonesia.

Di kota inilah sebenarnya ideologi bangsa dicetuskan oleh presiden pertama Indonesia yaitu Sukarno. Pada masa penjajahan Belanda, Bung Sukarno pernah diasingkan di kota ini, tepatnya pada 1934. Pengasingan ini dilakukan untuk memutus komunikasi Sukarno terhadap aktor politik lainnya kala itu yang dianggap membahayakan Belanda.

Saat itu, Ende menjadi kota yang masih sepi, tidak ada jalan beraspal, bahkan rumah penduduk pun jarang. Saat Sukarno diasingkan, Ende masih dipenuhi dengan hutan karet dan ditanami banyak bahan rempah oleh penduduk sekitar.

Selama diasingkan, Sukarno tinggal di rumah dengan ukuran 9 x 18,5 meter milik Haji Abdullah Ambuwaru. Rumah ini dipilih Sukarno karena menghadap ke arah Timur, sesuai kelahirannya di mana saat matahari terbit.

"Sebenarnya selama diasingkan, Bung Karno tinggal di markas Belanda di sini. Namun setelah satu minggu, Beliau menemukan rumah ini. Kemudian dia berdialog dengan pemilik rumah, dan malah langsung dihibahkan oleh Pak Haji ke Bung Karno," cerita petugas yang merawat Situs Rumah Pengasingan Bung Karno, Safruddin Pua Ita saat berbincang dengan Liputan6.com di Ende, Flores, Senin (14/8/2017).

Selama pengasingan, Bung Karno tinggal bersama istrinya saat itu, Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami, serta ibu mertuanya, Amsih. Kegiatan sehari-hari Bung Karno selama diasingkan di antaranya mulai berdialog dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama Ende, berkebun, melukis, bermain biola hingga menulis naskah drama.

Selama empat tahun diasingkan, Bung Karno mempelajari lebih jauh soal agama Islam hingga belajar soal pluralisme dengan bergaul bersama pastor-pastor di Ende.

Bukan berarti selama diasingkan Bung Karno tidak memikirkan masalah bangsa ini. Di Ende, Bung Karno gemar merenung di pinggir laut Ende, tepatnya di bawah pohon sukun. Ini menjadi lokasi favorit Bung Karno untuk mencari ketenangan sambil menikmati deburan ombak.

Pohon sukun itu berjarak 700 meter dari kediaman Bung Karno. Biasanya, Sukarno pergi sendiri ke tempat itu pada Jumat malam. Dan ternyata, di tempat inilah Bung Karno mengaku buah pemikiran Pancasila tercetus.

"Di sana lokasi Beliau (Sukarno) menyendiri. Di sana jugalah Pancasila itu dicetuskan, itu berkat pohon sukun yang sampai sekarang masih berdiri," tegas Safruddin.

Uniknya, pohon sukun di Ende ini memiliki lima cabang. Inilah yang menjadi inspirasi Bung Karno dalam mencetuskan ideologi Indonesia yang sampai saat ini masih digunakan. "Yang tumbuh saat ini adalah anak pohon yang pertama, uniknya semua anaknya juga memiliki cabang lima," ceritanya.

Akhirnya, pada 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato dalam rapat besar Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di sana, Bung Karno menegaskan bahwa rakyat Indonesia memerlukan pedoman yang akan dijadikan dasar dalam bernegara. Itulah Pancasila yang kini menjadi ideologi Indonesia.

Saksikan tayang video menarik berikut ini: