Petugas PPSU Jadi Korban Order Fiktif Gojek karena Asmara?

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 09 Jul 2017, 09:39 WIB
Diperbarui 09 Jul 2017, 09:39 WIB
order fiktif gojek
Perbesar
Petugas PPSU Ahmad Maulana juga menjadi korban order fiktif ojek online. (Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra)

Liputan6.com, Jakarta Petugas Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) atau Pasukan Oranye DKI Jakarta bernama Ahmad Maulana, mengaku diteror order fiktif makanan via ojek online. Setelah ditelusuri, Ahmad menduga pelakunya adalah mantan pacarnya berinisal A.

Ahmad mengaku bertemu A di media sosial Facebook. Namun, saat bertemu foto dengan aslinya berbeda.

"(Pacaran) cuma dua mingguan. Kenal di Faceook, ketemu dekat rumahnya. Saya samperin, ternyata lain sama fotonya," kata Ahmad saat ditemui di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu 8 Juli 2017 malam.

Meski wajah A berbeda dengan foto di Facebook, Ahmad mencoba menjalin hubungan dengan perempuan itu. Ia bahkan pernah bertemu keluarga A.

"Pernah ke rumahnya dua minggu sebelum puasa. Biasa aja, silahturahmi kedua orangtua," tutur Ahmad.

Berjalan dua minggu, Ahmad mengatakan, A pernah memintanya untuk menikahi dia. Namun, Ahmad belum juga menemukan rasa suka terhadap wanita itu dan memutuskan hubungan dengan A.

Sikap petugas PPSU yang memutuskan hubungan membuat A tidak suka. Apalagi Ahmad pernah meminjam uang A Rp 200 ribu untuk membeli kuota internet.

Dari sini lah, ujar Ahmad, A mulai menerornya, meski belakangan utang itu telah dibayar. "Saya udah bayar, tapi masih diteror. Datang makanan. Dia WA (WhatsApp)," papar Ahmad.

Teror tersebut berlangsung saat bulan Ramadan Juni lalu. Pada teror pertama, Ahmad dikirimi martabak seharga Rp 300 ribu. Namun tak dibayarkan di tempat kerjanya. Kemudian lanjut nasi goreng seharga Rp 350 ribu yang juga tak dibayarkannya.

"Yang ketiga saya bayar seharga Rp 500 ribu, lima box (kotak)," tutur Ahmad.

Dia merasa yakin teror itu dilakukan oleh A, terduga yang sama dilakukan terhadap Julianto. Sebab saat hubungan asmaranya diputus, Ahmad mendapat ancaman dari A.

"Dari awal ngancem. Kalau putus, kamu dapat masalah. Saya teror dari pihak online. Saya enggak tahu online apaan donk. Ternyata Gojek, Grab Bike, sama yang mobil Go-Car dipesenin itu juga, semuanya. Terus makanan dibawa ke rumah saya, sampe orangtua saya marah-marah," cerita Ahmad.

Dia menuturkan telah melaporkannya ke Polsek Tanah Abang bersama pihak ojek online. "Udah, (bersama) pihak Grab. Enggak direspon sama kantor polisinya," kata Ahmad.

Sebelumnya, Kanit Reskrim Polsek Metro Tanah Abang Kompol Mustakim mengatakan belum menerima laporan kasus Ahmad. "Belum ada. Belum ada laporan yang masuk ke kantor," ucap Mustakim kepada Liputan6.com, Sabtu 8 Juli 2017.

Begitu juga Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan, dan Pemakaman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Djafar Muchlisin mengaku belum mengetahui kasus yang menimpa anak buahnya ini. "Enggak (tidak tahu). Belum dengar," ujar Djafar.

 

Saksikan video berikut ini: