Cerita Petugas PPSU Jadi Korban Order Fiktif Gojek

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 09 Jul 2017, 03:03 WIB
Diperbarui 09 Jul 2017, 03:03 WIB
order fiktif gojek
Perbesar
Petugas PPSU Ahmad Maulana juga menjadi korban order fiktif ojek online. (Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra)

Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya menimpa Julianto Sudrajat alias Jajat, teror orderan fiktif via Gojek juga dirasakan oleh Ahmad Maulana. Petugas Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) atau Pasukan Oranye itu mengaku teror tersebut dilakukan oleh gadis berinisial A, terduga pelaku yang sama terhadap Julianto.

Saat disambangi Liputan6.com di tempat kerjanya di Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Maulana membenarkan hal tersebut. Kejadian menyedihkan itu berlangsung pada bulan puasa

"Iya benar, itu dari pertengahan puasa menjelang (lebaran), seminggu (diterornya)," ucap Ahmad, Sabtu (8/7/2017) malam.

Pada teror pertama, dia dikirimi martabak seharga Rp 300 ribu. Namun tak dibayarkan di tempat kerjanya. Kemudian lanjut nasi goreng seharga Rp 350 ribu yang juga tak dibayarkannya.

"Yang ketiga saya bayar seharga Rp 500 ribu, lima box (kotak)," tutur Ahmad.

Dia merasa yakin teror itu dilakukan oleh gadis A, terduga yang sama dilakukan terhadap Julianto. Sebab saat hubungan asmaranya diputus, Ahmad mendapat ancama dari si A.

Selain itu, saat Liputan6.com, menunjukan foto wanita yang diduga peneror Julianto, Ahmad membenarkan wanita itu yang dipacarinya selama dua minggu.

"Dari awal ngancem. Kalau putus, kamu dapat masalah. Saya teror dari pihak online. saya enggak tahu online apaan donk. Ternyata Gojek, Grab Bike, sama yang mobil Go-Car dipesenin itu juga, semuanya. Terus makanan dibawa ke rumah saya, sampe orang tua saya marah-marah," cerita Ahmad.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini: