Badan Mubaligh: Kini Dakwah Jadi Tontonan, Bukan Tuntunan

Oleh Ahmad Romadoni pada 17 Apr 2017, 16:05 WIB
Diperbarui 17 Apr 2017, 16:05 WIB
Ilustrasi Masjid (istimewa)
Perbesar
Ilustrasi Masjid (istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Selama masa Pilkada berlangsung, terutama Pilkada DKI 2017, masyarakat diresahkan ceramah yang cenderung provokatif. Badan Koordinasi Mubaligh se-Indonesia menilai hal ini sangat mengganggu, bahkan dianggap melenceng dari konsep dakwah.

Ketua DPP Badan Koordinasi Mubaligh se-Indonesia, Dedy Ismatullah, mengatakan Alquran juga mengatur tentang bagaimana mubaligh berdakwah. Menurut Dedy, yang pasti, dakwah harus disampaikan secara bijak dan menjadi tuntutan bagi umat.

Dedy menyayangkan, belakangan ini, dakwah mulai kehilangan unsur tuntunan. Seseorang dalam berdakwah malah lebih terlihat sebagai tontonan.

"Hari ini, dakwah itu menjadi tontonan. Enggak ada bedanya dengan sinetron. Kita tidak ingin terjadi yang seperti itu," imbuh dia.

Sejatinya, dakwah merupakan tuntunan bagi umat. Islam pada dasarnya mengajarkan kemanfaatan bagi seluruh umat. Konsep ini dikenal sebagai Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

"Islam itu Rahmatan Lil Alamin, akan memberikan manfaat bagi seluruh agama yang ada di muka bumi," pungkas dia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya