Selain Pasukan Oranye, Ini Pasukan Penyelam Got saat Banjir

Oleh Moch Harun Syah pada 23 Feb 2017, 11:10 WIB
Diperbarui 25 Jul 2017, 08:53 WIB
20160830-Pasukan Orange- Jakarta- Yoppy Renato

Liputan6.com, Jakarta - Video seorang Petugas Harian Lepas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta atau Pasukan Oranye yang nyelam di got hitam pekat mendadak viral di media sosial. Petugas tersebut mencari sampah-sampah yang menutupi jalan air dan mengakibatkan got mampet.

Tidak hanya Pasukan Oranye, pasukan satu ini pun rela nyelam di got dan mencari sampah yang menyumbat saluran air. Mereka adalah petugas Dinas Tata Air DKI Jakarta atau Pasukan Biru.

Sama halnya dengan video Pasukan Oranye, video Pasukan Biru yang bejibaku dengan sampah mendadak viral dan di media sosial.

"Itu Pasukan Biru Dinas Tata Air kami," kata Kepala Dinas Tata Air Teguh Hendrawan saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (23/2/2017).

Berbekal alat seadanya petugas tersebut menyelam di saluran air dan timbul ke permukaan dengan mengenggam sampah.

"Sedang membersihkan sampah yang menyumbat pompa mesin di rumah pompa Dwi Warna, Jakarta Pusat," kata Teguh.

Memang peran-peran dua pasukan ini tidak bisa dianggap remeh. Tak jarang aksi-aksi mereka mendapat decak kagum Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok.

Ahok mengaku sudah menanyakan alasan pasukan oranye itu tidak menggunakan alat pelindung apa pun.

"Saya sudah tanya kenapa enggak mau pakai kacamata dan alat kemananan. Mereka bilang lebih enak, sering begitu. Saya juga takut kena matanya, tapi yang mau (pakai alat) harus belikan alat yang lengkap," ucap Ahok di Balai Kota Jakarta, Rabu 22 Februari 2017.

Kisah Haru PHL

Aksi Pasukan Oranye belakangan kembali menyedot perhatian warga. Para netizen juga ramai berkomentar soal video pasukan oranye yang memasuki saluran penghubung tanpa satupun alat keamanan. Padahal saat itu dia tengah memastikan air mengalir normal tanpa hambatan.

Di Kali Betik di Rawa Sengon, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, seorang petugas PPSU, Dennis usia 45 tahun meregang nyawa saat memantau dan bertugas menangani banjir di kawasan Kelapa Gading. Dia terpleset ketika melintas di jembatan besi di Kali Betik. Saat itu dia baru selesai mengambil foto kondisi aliran kali Betik.

"Informasinya, Deni ini terpeleset dari motor dan terjatuh ke Kali itu. Berangkat mau bersihkan saluran," kata Kasudin Damkar Jakarta Utara Satriadi saat dihubungi Liputan6.com Rabu 22 Februari 2017.

Setelah sempat dilakukan pencarian, nyawa pria asal Kupang, NTT itu tak terselamatkan. Denis ditemukan di aliran Kali Sunter di Jembatan Plumpang, Semper, sekitar pukul 11.45 WIB. Proses pengangkatan jasad Dennis dari Kali Sunter pun mengundang haru dari warga yang datang melihat.

"Ya masih menempel semua, pakaian sama tadi ada alat-alat kebersihannya," tambah Satriadi.

Keberadaan Pasukan Oranye ternyata juga mencuri perhatian salah satu pasangan calon (paslon) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Jadi bagian warga Ibukota menambah magnet pasukan oranye untuk didekati paslon.

Sebanyak 73 Pegawai Harian Lepas (PHL) Dinas Kebersihan DKI Jakarta atau Pasukan Oranye diskors. Sebabnya, mereka diduga kuat ikut kampanye salah satu paslon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

"Mereka ikut kampanye pasangan nomor satu," kata Kepala Dinas Kebersihan Isnawa Adji saat berbincang dengan Liputan6.com.

Puluhan petugas tersebut adalah mereka yang biasa menjaga kebersihan sungai dan kali di Jakarta. Puluhan pasukan oranye tersebut ikut kampanye pada Senin, 21 November 2016 sore. Mereka berasal dari PHL Kecamatan Kemayoran (38 orang) dan Kecamatan Johar Baru (35 orang).

"Mereka foto sambil acungkan jari pakai seragam oranye lengkap dengan peralatan," kata Isnawa.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, Isnawa langsung memerintahkan jajarannya untuk mem-BAP (Berita Acara Pemeriksaan). "Senin malam saya lapor Plt Gubernur," kata Asnawi.

Plt Gubernur Sumarsono tidak berlama-lama dan mengambil langkah tegas. Puluhan pasukan oranye itu langsung diskors. Mereka tidak diperbolehkan bekerja dan menerima gaji. "Tapi mereka bisa mendaftar lagi setelah beres pilkada," Asnawi menjelaskan.