Wajah Bangsa dari Kaca Mata Pramoedya Ananta Toer

Oleh Edhie Prayitno IgeFadjriah NurdiarsihRamdania El Hida pada 06 Feb 2017, 19:44 WIB
Diperbarui 06 Feb 2017, 19:44 WIB
Pramoedya Ananta Toer
Perbesar
Pramoedya Ananta Toer

Liputan6.com, Jakarta - Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.

Begitulah sepenggal kalimat yang diambil dari buku karya Pramoedya Ananta Toer yang bertajuk Anak Semua Bangsa yang terbit pada tahun 1981. Buku ini merupakan bagian dari Tetralogi Buru, yang terdiri atas Bumi Manusia (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).

Buku Anak Semua Bangsa bercerita tentang seorang pribumi yang memandang Eropa sebagai acuan hidupnya ini masih cukup relevan disandingkan dengan kehidupan anak bangsa saat ini. Pasalnya, kini banyak anak bangsa yang justru berbangga-bangga dengan segala hal yang berbau asing. Padahal, tidak semua hal di luar negeri itu bagus.

Perhatian terhadap bangsa ini dituangkan Pramoedya di seluruh karyanya. Cerita dari Blora hingga Cerita dari Jakarta mengisahkan potret kehidupan bangsa melalui kaca mata penulis yang lahir pada 6 Februari 1925 ini.

Kemiskinan dan penyiksaan terukir tajam di tangan Mas Pram, sapaan akrab Pramoedya. Inilah yang menyebabkan dirinya sempat merasakan dinginnya jeruji tahanan, pada masa penjajahan Belanda, serta masa pemerintahan Orde Baru karena dinilai menyampaikan pandangan prokomunis Tiongkok.

Bahkan, tidak sedikit karyanya yang ditarik dari peredaran karena dinilai terlalu keras mengkritik pemerintah. Seperti, Tetralogi Buru tersebut. Kisah yang ditulisnya setelah bebas dari penahanan di Pulau Buru ini, dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung 2 bulan setelah terbit.

Semasa hidupnya selama 81 tahun, Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Bahkan, hingga mendekati ajalnya, Pram masih aktif menulis untuk menuangkan kritik sosialnya.


Pramoedya dan Perjuangan Kaum Samin

Pramoedya Ananta Toer
Perbesar
Pramoedya Ananta Toer


Pramoedya dan Perjuangan Kaum Samin

Aksi ibu-ibu dari Jawa Tengah menyemen kakinya di depan Istana Negara menyita perhatian publik. Aksi menolak rencana pembangunan pabrik semen itu kembali mengingatkan pada keberadaan komunitas orang-orang Samin, atau biasa disebut kaum Samin.

Ibu-ibu itu umumnya anggota kaum Samin. Kaum Samin dikenal sangat memegang nilai kejujuran, hingga sering dinilai naif. Anggota kaum Samin tersebar di Jawa Tengah, persisnya sekitar Blora, Pati, Rembang, Purwodadi, dan sekitarnya.

Sikap ngeyel alias penuh argumen sarkastis para penganut Samin ini sudah berlaku turun-temurun. Diwariskan dari nenek moyang mereka yang menolak membayar pajak dan upeti ke pemerintah Belanda. Penolakan mereka bukan dengan kekerasan, melainkan dengan sikap ngeyel tadi.

Seorang penulis lain, Takashi Shiraishi dari Jepang, menuliskan sikap ngeyel dengan argumen sarkastis dalam bukunya Dangir’s Testimony, Saminis Reconsidered. Di buku itu warga Samin menolak membayar pajak dengan argumen bahwa warga Samin merasa tidak pernah menyewa tanah atau apa pun ke pemerintah.

Tanah yang mereka diami adalah warisan leluhur. Tahu-tahu ada orang asing datang memaksa mereka membayar. Jelas mereka menolak.

Sikap perlawanan itulah yang kemudian menyebabkan Gubernur Jenderal Van Heutz harus memberi stigma gila terhadap kaum Samin. Hal itu bisa dibaca dalam novel sejarah yang ditulis Pramoedya Ananta Toer.

Stigma dari Gubernur Jenderal Van Heutsz, penguasa tertinggi di Hindia Belanda dalam kisah Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah, 2001: 254) – itu, barangkali yang kali pertama terlontar bagi gerakan Samin. Pembangkang!

Selengkapnya...


Kejujuran dan Keberanian Sang Juru Ketik

Pramoedya Ananta Toer
Perbesar
Pramoedya Ananta Toer

Kejujuran dan Keberanian Sang Juru Ketik

Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia. Semasa penahanannya di Pulau Buru, Pram ternyata didaulat sebagai juru tulis atau tukang ketik petugas Pulau Buru.

Karya awal Pram, Kranji-kranji Jatuh, Perburuan, dan Keluarga Gerilya dengan segera menunjukkan kegeramannya pada penguasa. Pram sepertinya mengenang kala tentara Belanda dengan sewenang-wenang pernah membakar buku koleksi ayahnya.

August Hans den Boef dan Kees Snoek dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (2008) mengatakan karya-karya Pramoedya telah menciptakan gambaran tidak terhapuskan tentang tanah air dan sejarahnya.

Inti dalam karya Pram adalah nasib rakyat. Rakyat dalam kehidupan sehari-hari, rakyat yang bertahan untuk mencari nafkah, serta rakyat yang dilukiskan dalam ambisi-ambisinya yang sering dikekang.

Dalam Perburuan, Pram jelas menyuarakan kebencian pada orang-orang Indonesia yang jadi kolaborator Jepang, sementara tokoh Amilah dalam Keluarga Gerilya tampaknya diambil Pram dari sang ibu. Adapun tokoh Wahab didasarkan Pram pada Komandan Wahab, seorang pejuang kemerdekaan yang dijatuhi hukuman mati oleh Belanda.

Selengkapnya...

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya