DPR Sebut Libur Panjang Jadi Faktor Harga Cabai Meroket

Oleh Taufiqurrohman pada 12 Jan 2017, 06:37 WIB
Diperbarui 12 Jan 2017, 06:37 WIB
20161115-Operasi-Pasar-Akan-Di-Gelar-GM1
Perbesar
Seorang pedagang cabai melayani pembelinya di Pasar Impres Senen, Jakarta, Selasa (15/11). Kementrian Perdagangan akan menggelar operasi pasar melalui kemitraan dengan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero). (Liputan6.com/Gempur M. Surya)

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengecek harga cabai yang meroket hingga Rp 100 ribu per kilogram di Pasar Palmerah, Jakarta Barat. Dalam pengecekan di pasar tersebut, dirinya mendapati harga cabai yang mencapai Rp 140 ribu untuk jenis rawit.

Menurutnya, harga tersebut dinilai tidak rasional mengingat di petani harganya masih di bawah Rp 30 ribu.

"Per hari ini tanggal 11 Januari 2017 harga cabai besar antara Rp 50 ribu sampai Rp 55 ribu. Harga cabai keriting hampir sama Rp 50 sampai Rp 55 ribu tetapi harga cabai rawit di Pasar Palmerah ini Rp 140 ribu per kilogram," kata Herman di Pasar Palmerah, Rabu (11/1/2017).

Politikus Partai Demokrat ini menilai, kenaikan harga cabai di pasaran tak lepas dengan distribusi dari petani ke pasar tradisional.

Dijelaskan dia, kalau produksi di petani berlangsung dengan baik lalu suplai di pasar cukup tinggi berarti ada aspek distribusi yang harus diperhatikan.

"‎Harus ada yang mengurusi distribusi. Faktor distribusi ini dipengaruhi oleh libur panjang, natal dan tahun baru," ujar Herman.

Masih kata Herman, ia memprediksi jika tingginya harga cabai masih berlangsung sampai beberapa hari ke depan. Dirinya sudah mengecek secara langsung ke Dirjen Holtikultura ‎mengenai harga cabai dari tingkat petani hingga ke pasaran.

"Daerah-daerah produksi sebetulnya berproduksi secara normal, harga di daerah pun harganya memang awalnya normal. Namun ketika kemudian harga pasar ini naik, sekarang ‎harga ‎di petani sudah mulai naik. Nah untuk turun dalam segera memang ini butuh waktu," tandas Herman.