Kisah Dianne Dhamayanti, dari Kota Jababeka untuk Dunia

Oleh Liputan6 pada 27 Des 2016, 09:00 WIB
Diperbarui 11 Jan 2017, 10:58 WIB
Kisah Ibu Dianne Dhamayanti, Dari Kota Jababeka Untuk Dunia

Liputan6.com, Jakarta Bertepatan pada Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember, Jababeka & Co. menghadirkan Ibu Dianne Dhamayanti dalam acara Leaders Dialogue bertema "Jababeka Peduli Corporate Social Responbility" di President Executive Club Kota Jababeka.
Kisah ibu dari 2 orang putri ini begitu menginspirasi kita semua atas kepeduliannya kepada sesama. Bahkan kiprah ibu yang tinggal di Graha Asri Kota Jababeka, Cikarang ini sudah diakui UNESCO.

Dihadapan jajaran manajemen dan karyawan Jababeka & Co, S.D. Darmono Owner Jababeka & Co. menekankan Jababeka yang tumbuh menjadi perusahaan besar, tentunya memikirkan untuk berbagai keuntungan dengan masyarakat sekitar, agar tidak terjadi kesenjangan sosial.

"Untuk mengurangi kesenjangan sosial tidaklah mudah, butuh proses yang panjang, namun untuk mengatasi kecemburuan sosial, tentu kita bisa melalui program Corporate Social Responbility dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Inilah yang juga dilakukan oleh Ibu Dianne yang kemudian kita ajak bergabung menjadi advisor di Jababeka," ungkap S.D. Darmono.

Dalam kesempatan tersebut Ibu Dianne menceritakan kisahnya yang bermula dari membuka toko pakaian di Pasar Cikarang. Namun terjadi kerusuhan Mei 1998, dimana toko pakaiannya habis dijarah perusuh. Lebih menyedihkan lagi, barang dagangannya sebagian besar masih berhutang. Sebagai seorang warga keturunan dan terbilang minoritas, Ibu Dianne tidak menaruh dendam dengan kejadian tersebut.

Bahkan kebesaran jiwanya nampak ketika melihat anak-anak jalanan berkumpul di sebelah tokonya dan tidak bersekolah, dari sini kemudian Ibu Dianne berhenti berdagang dan membuka lembaga pendidikan buat anak-anak kurang mampu. Terbentuklah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Modeslavidi yang mengajarkan anak-anak belajar membaca dan berhitung, dari PAUD, TK hingga SD. Juga membuka pendidikan kesetaraan untuk Paket A,B dan C.

“Setelah kerusuhan 98, keadaan ekonomi sudah morat-marit, kemudian di rumah saya ingin membuka toko sembako, karena hanya dagang yang saya bisa. Namun warga sekitar meminta saya membuka sekolah, dan saya putuskan membuka sekolah untuk anak usia dini. Dari sini timbul rasa kepedulian saya, sehingga saya tekuni dunia pendidikan. Padahal saya tidak punya pendidikan guru, tetapi dengan perasaan saya sebagai seorang ibu dalam merawat anak-anak, saya jadikan pengalaman untuk mengajar,” ungkap Ibu Dianne yang salah satu putrinya lulus kuliah S2 di Jerman dan memiliki kemampuan 7 bahasa.

Kepedulian kepada sesama tidak hanya di dunia pendidikan, Ibu Dianne juga memberikan ketrampilan kepada ibu-ibu masyarakat Cikarang yang tidak mampu dengan membuat kerajinan tangan seperti tas dan tempat tisu dari barang bekas. Melalui aksi pemberdayaan perempuan inilah, UNISCO memintanya untuk berbagi pengalaman ke negara lain.

“Saya dikontrak oleh UNESCO untuk memberikan pengalaman saya di Timor Leste, kemudian berlanjut ke Singapore, Malaysia, Thailand, Korea dan China. Pengalaman yang paling berharga adalah saat saya diminta oleh Kementerian Pendidikan untuk mengajar di daerah perbatasan tepatnya di Nunukan Kalimantan. Di sana ada 7 ribu kepala keluarga, saya kumpulkan dan saya ajak menyanyikan lagu Indonesia Raya, tetapi mereka tidak tahu lagu tersebut. Saya sungguh sedih, sehingga saya menulis lagu Indonesia Raya dan membagikannya. Begitu kaget saya, ternyata mereka tidak bisa membaca, akhirnya saya bacakan satu per satu bait dan mereka mengikutinya. Setelah bisa menyanyikannya, mereka begitu bangga dan meminta diajarkan lagu lagi. Saya ajarkan lagu Halo-Halo Bandung dan Pusaka Indonesia, lagu yang terakhir ini membuat saya terharu karena ingat putri saya yang kuliah di Jerman,” cerita Ibu Dianne dengan mata berkaca-kaca.

Mimpi Ibu Dianne dalam memberdayakan masyarakat tentunya sulit terwujud jika dilakukan sendiri, maka beliau datang kepada S.D. Darmono untuk bersama-sama mewujudkan mimpi tersebut. Bak gayung tersambut, Jababeka sebagai perusahaan pengembang kota yang begitu konsen terhadap pemberdayaan masyarakat, menjadikan Ibu Dianne sebagai advisor.

“Saya sangat terhormat bisa bergabung dengan Jababeka, ini perusahaan besar yang sudah banyak kontribusinya bagi masyarakat Cikarang, juga kepada bangsa dan negara. Di Cikarang, Jababeka memiliki 13 Desa Binaan, saya memiliki program Desa Literasi dan Vokasi, dengan membuka Taman Baca Masyarakat (TBM) agar anak-anak mau membaca. Selain itu, saya akan menggerakan masyarakat untuk membuat home industri,” ungkap Ibu Dianne.

Melalui Program Jababeka Peduli, Ibu Dianne yakin mimpinya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa dan memberdayakan ekonomi kerakyatan dapat terwujud. Tidak hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga untuk masyarakat Dunia.


Powered By:

Jababeka