Hidup Bertaruh Nyawa di Bawah SUTET Rusun KS Tubun

Oleh Muslim AR pada 21 Des 2016, 06:38 WIB
Diperbarui 21 Des 2016, 06:38 WIB
SUTET di Rusun KS Tubun.
Perbesar
SUTET di Rusun KS Tubun. (Liputan6.com/Muslim AR)

Liputan6.com, Jakarta Empat orang keluar dari pintu pagar seng. Mereka memakai topi keselamatan. Sekitar satu meter jelang pintu seng, mengangkang besi-besi berkarat yang menjulang tinggi. Di salah satu besinya ada plang berkarat bertuliskan 'Bahaya Tegangan Tinggi'.

"Enggak ada perintah bongkar atau pindahin mas, ya memang bakal di sana sampai ini dihuni," ujar Dani, seorang pekerja di Rusun KS Tubun, Jakarta Barat kepada Liputan6.com, Rabu (21/12/2016).

Menurut Dani, selama ia bekerja tiga bulan lalu, tak ada soal jika Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) itu berada di samping dan dalam kompleks rusun.

Rusun tersebut memiliki tiga jalur masuk dan jalur utama harus melalui SUTET. Belum lagi, kabel-kabel besar yang sangat dekat dengan dinding Rusun. Tak hanya dekat rusun, bahkan SUTET lainnya berjarak sekitar 500 meter, berada tepat di atas jalan.

"Belum ada sih, tapi banyak yang was-was juga kalau hujan gede, angin kencang," kata Maman, seorang tukang ojek yang sehari-hari mangkal di bawah SUTET yang berada tepat di samping Museum Tekstil, Jalan KS Tubun, Jakarta Barat.

Mamang cemas jika hujan deras dan angin kencang. Ia takut, jika nanti kabel SUTET putus dan besi-besi itu roboh. Di sekitar SUTET itu, beberapa gubuk yang dihuni pemulung dan anak jalanan dibiarkan saja.

Warung-warung berjejeran di sekitar dua  SUTET itu, bendera ormas juga terpasang di besi SUTET. "Cuma hujan saja yang bikin ngeri, kalau enggak (hujan) mah, biasa-biasa saja," kata Ruswita (40) pedagang asongan yang bermalam setiap hari di bawah SUTET.

Jalur SUTET ini berasal dan menuju Jawa Barat. Di papan pengumuman bahaya, menuliskan bahwa kekuatan tegangan kabelnya 500 Kv. SUTET ini ditujukan untuk menyalurkan listrik dari pusat pembangkit ke pusat beban sehingga energi listrik bisa disalurkan dengan efisien.

"Iya, itu memang jalur Jawa Barat," kata Didi, pejabat PLN Transmisi Jawa Bagian Barat.

Namun, Didi tak mau komentarnya soal warga yang beraktivitas di bawah SUTET dituliskan. Berulang kali Liputan6.com menghubungi Didi, tapi ia enggan menjawab pertanyaan. Meski, Aries Dwiyanto Manajer Komunikasi hukum Dan administrasi PLN menyatakan bahwa hanya Didi yang berhak mengeluarkan pernyataan terkait tegangan tinggi.

"Saya enggak bisa komentar soal tegangan tinggi dan SUTET mas, itu kewajiban dan haknya Pak Didi," jelas Aries saat dikonfirmasi.

Keberadaan SUTET mendapatkan berbagai pro dan kontra. Berbagai penelitian telah dilakukan, namun berbagai penelitian memiliki satu kesamaan. Beraktifitas di bawah SUTET berbahaya. Meski ada penelitian yang mengaitkan kasus kanker dengan orang-orang yang hidup di bawah SUTET.